Sabtu, 20 Agustus 2011

RAGAM BUDAYA


PERMAINAN ANAK BETAWI

Permainan anak-anak Betawi pada hakekatnya tidak
banyak berbeda dengan permainan anak-anak dari daerah-daerah lain di
Indonesia, terutama dengan permainan anak-anak di Jawa. Anehnya
kesamaan ini bukan dengan permainan anak-anak Priangan, padahal
wilayahnya lebih dekat, bahkan berbatasan dengan Betawi. Hal ini
kemungkinan besar karena banyak suku Jawa yang terdampar di pinggiran
Betawi-yaitu prajurit-prajurit Sultan Agung Mataram yang menyerang
Batavia pada antara tahun 1613-1645.

Beberapa macam permainan
anak-anak Betawi tersebut, perbedaannya hanya pada nama dan nyayiannya
saja, sedangkan esensinya sama. Misalnya nyanyian anak-anak Jawa
“Cublak-Cublak Suweng”, di Betawi juga ada yaitu “Cublak-Cublak uang”.

Kelebihan
permaianan anak-anak Betawi mungkin pada jumlahnya yang kaya
Diperkirakan ada sekitar 40 macam. Ini dapat dimengerti lantaran etnis
Betawi terbentuk oleh perpaduan berbagai etnis. Setiap etnis mungkin
memberikan sumbangan ide dan pola permainan anak-anak dari daerahnya
masing-masing.

Mengapa punah?
Permainan anak-anak Betawi
dewasa ini makin punah. Faktor penyebab kepunahannya sama dengan
penyebab kepunahan unsur-unsur Budaya Betawi lainnya, yaitu pengaruh
kota besar yang terus-menerus dilanda pembangunan yang pesat dan
masuknya moderisasi di sengala bidang kehidupan, baik fisik maupun alam
pikiran. Lenyapnya tanah-tanah kosong tempat anak-anak bermain, serta
hadirnya sarana hiburan yang ditunjang teknologi modern seperti Play
Stastion, Sega, VCD,DVD, dan komputer serta televisi, telah mengurangi
minat anak-anak untuk bermain secara tradisioanal. Padahal keindahan
dan kenikmatan melakukan permainan tranisioanal, relatif tidak kalah
dari sarana hiburan mutakhir.

Pendidikan dan falsafah
Di
dalam beberapa jenis permainan anak-anak Betawi, jika di simak lebih
teliti, sesungguhnya banyak mengandung aspek pendidikan dan falsafah
hidup.

Misalnya permainan Petak Torti. Permainan mencari teman
yang bersembunyi ini biasanya dilakukan malam hari. Padahal kota
jakarta pada waktu dulu tidak seterang sekarang. Masih banyak yang sepi
dan gelap. Banyak pula pepohonan yang rimbun dan semak-semak. Bererapa
tempat bahkan di bilang tempat yang angker alias banyak setannya.

Disini
jelas maksudnya, bahwa anak-anak Betawi yang bermain Petak Torti,
otomatis diajar menjadi orang yang pemberani. Sifat berani penting bagi
kehidupan Betawi yang lokasi etnisnya setiap hari berhadapan dengan
penjajah, pemeras, lintah darat, penjahat, yang terdiri dari tuan-tuan
tanah dan kaki tangannya itulah seba, “Besile di rume ngaji Qur’an.
Turun ke pelantaran maen pukulan”

Ada lagi permainan Tok Tok
Pintu Atau Gali Gali ubi. Permainan ini jelas melambangkan agar anak
Betawi hendaknya bermurah hati. harta-benda kepada yang membutuhkan,
Apabila kita telah merasa cukup dan berlatih. Permainan ini ada
dialognya yang khas, sebagai berikut:

Tok-tok-tok buka pintu!
Siape?
Nenek Gerondong
Minta ape? bedaon atu
Minta ubi
Ubinye baru

Nenek
Gerondong mengulang lagi permintaannya setelah ia berjalan memutar.
Jawabannya yang diterima sudah berubah menjadi “Bedaon tiga”. Barulah
ubi boleh diminta. Itu berarti ubi sudah berdaun cukup, sudah besar dan
masak. Sehingga boleh diminta orang lain. Maka berikanlah, jangan
kikir. Disini, ubi melambangkan harta-benda.

Macam-macam Permainan
Dari
sekian banyak bentuk permainan anak-anak Betawi yang amat spesifik,
terutama karena ada nyayiannya, dapatlah disebutkan disisi sebagai
berikut:

1. Deng-Ndengan
Dimainkan oleh laki-laki atau
perempuan, usia 11 tahun ke bawah. Tiga anak berpegangan tangan sambil
direntangkan. Kemudian mereka berjalan berbarengan sambil bernyanyi:
Deng-ndengan, sirih tampi berduri-duri
Mandi kembang, kembang melati
Bok breoook… !
Ketika menyanyikan kata terakhir “bok breoook”, anak-anak itu berjongkok serempak. Dan begitu seterusnya berulang-ulang.

2. Wak-wak Gung
Dimainkan
oleh anak perempuan dan laki-laki. Dua anak berdiri berpenggangan
tangan membuat lorong. Anak-anak yang lain berjalan berputar membentuk
barisan seperti ular, kemudian memasuki lorong satu persatu. Giliran
anak yang terakhir, anak itu di kurung di dalam lorong. Dan begitu
seterusnya, sambil mereka bernyanyi-nyanyi:
Wak-wak Gung, nasinye nasi jagung,
Lalapnye lalap utan,
Sarang gaok di pu’un jagung, gang-ging-gung!
Pit-alaipit, kuda lari kejepit… sipit!

Disambung dengan nyanyian lain:
Tamtam buku, seleret daon delime,
Pate lembing, pate paku, tarik belimbing, tangkep Satu
Kosong-kosong-kosong! Isi-isi-isi….!

3. Ciblak-ciblak Uang
Seorang
anak membungkukkan Anak-anak lain menaruh tangannya yang dikepalkan di
pungung anak tadi. Di dalam genggaman salah seorang anak ada sebuah
batu kecil. Anak yang membungkukkan badan itulah yang harus menebak,
anak mana yang memengang batu.
Sambil bermain mereka bernyanyi:
Ciblak-ciblak uangnye manggulenteng,
Ambu tata, ambu titi, ketulung bung-bung,
Bok Eran, Bok Eran, si anu mau kawin,
Potong kerbo pendek, potong kerbo tinggi,
Gamelan jegar-jegur.
Ta-em-em, ta-em-em
Kereta-keritu, siape yang pegang batu?
Di depan pintu dipunggut mantu.

Kalau tebakannya tepat, maka anak yang memegang batu harus ganti membungkuk.

4. Ci-ci Puteri
Tangan
terkepal, jempol diacungkan ke atas. Lalu tangan-tangan itu disusun
saling tindih. Tangan yang di atas memegang jembol tangan yang di
bawah, sambil bernyanyi:
Ci-ci puteri, tembako lime kati
Mak None, Mak None, si Siti mau kembang ape?
Siti menjawab: Mau kembang duren!
Pulang-pulang babenye keren!

Kalau Siti bilang kembang terompet, maka anak-anak yang lain akan berseru,”Pulang-pulang babenye ngepet!”
Jadi harus ada persamaan bunyi pada suku kata terakhir.

Aneka Macam Main Petak
Main
petak ada bermacam-macam. Yang penting lawan harus dikenai. Kena dalam
arti”terlihat” atau betul-betul tersentuh.Ada lima macam main petak, di
antaranya:

1. Petak Torti
Ada nyanyiannya yang khas: Torti! Sambel godok ayam puti, cewek montok bau terasi
2. Petak Umpet
3. Petak inggo
Inggo artinya titik awal atau pos. Anak-anak yang dikejar akan terbebas dari kejaran kalau mereka sudah tiba di titik inggo.
4. Petak Jongkok
Anak-anak yang dikejar akan terbebas dari kejaran, kalau mereka segera berjongkok.

Dan
ada banyak lagi permainan lainnya semisal: Pletokan, gundu, tombok,
ketok kadal, congklak, galah asin, jangkungan, sumpritan atau
jumparing, jepretan, main karet, dampu, gangsing, bentengan,
landar-lundur, bekel, olelio, rage, serta beberapa lagi yang belum
tercatat.

Bagaimanapun juga, permainan anak-anak tersebut perlu
digalakkan kembali kendati jaman telah berubah. Perlu diingat perubahan
itu harus memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Untuk itu,
unsur budaya – dalam hal ini permainan anak-anak haruslah pula
digalakkan dan disebarluaskan karena apat membantu manusia mencapai
peradaban yang lebih manusiawi, yang memiliki etika yang baik
dari Jabir Sofyan Khamal

RAGAM BUDAYA


ONDEL-ONDEL BETAWI

Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Walaupun pertunjukan rakyat semacam itu terdapat pula di beberapa tempat lain seperti di Priangan dikenal dengan sebutan Badawang, di Cirebon disebut Barongan Buncis dan di Bali disebut Barong Landung, tetapi ondel-ondel memiliki karakteristik yang khas. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot.

Ondel-ondel yang menggambarkan laki-laki mukanya bercat merah, yang menggambarkan perempuan bermuka putih atau kuning. Ondel-ondel biasanya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, seperti mengarak pengantin sunat dan sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-perayaan umum seperti ulang tahun hari jadi kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah.

Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu, tergantung masing-masing rombongan. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh (alm), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, kalideres

Disamping untuk memeriahkan arak-arakan pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, “Ngamen”. Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru Masehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen.Pendukung utama kesenian ondel-ondel petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di daerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.

Pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, baik waktu membentuk kedoknya demikian pula pada waktu menganyam badannya dengan bahan bambu. Sebelum pekerjaan dimulai, biasanya disediakan sesajen yang antara lain berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan sebagainya, disamping sudah pasti di bakari kemenyan. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantias diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut “Ukup” atau “ngukup”.

TOKOH BETAWI

Repost : Abam Is 
KH KH Noer Alie. Untuk wilayah Bekasi dan sekitarnya KH Noer Alie sangat gigih melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda sehingga beliau dikenal dengan julukan "Singa Karawang - Bekasi ". Kisah kepahlawanan KH Noer Alie telah menginspirasi seorang pujangga besar Indonesia yaitu Khairil Anwar untuk menulis karya puisi " Karawang - Bekasi " yang sangat terkenal itu

Dari sekian banyak pertempuran yang telah dilakukan, terdapat dua kisah pertempuran yang memperlihatkan semangat perjuangan dengan keberanian dan kecerdikan yang telah dilakukan oleh KH Noer Alie dan perperangan itu berperan besar dalam kelanjutan kisah perjuangan rakyat Bekasi yaitu :

1. Pertempuran Sasak Kapuk
Pada tanggal 29 November 1945 meletus pertempuran sengit pasukan KH Noer Alie dengan Sekutu – Inggris di Pondok Ungu seiring gema takbir dalam kalimat Hizbun Nash berkumandang bersamaan dengan langkah pasukan rakyat KH Noer Alie mendesak pasukan Sekutu karena serangan mendadak pasukan rakyat.Melihat pasukan sekutu sudah mulai terdesak, mulai timbul rasa takabur pada pasukannya sehingga ketika pasukan sekutu mulai berbalik setelah sekitar satu jam terdesak, pasukan rakyat berbalik terdesak sampai jembatan Sasak Kapuk. Pondok Ungu. Bekasi. Melihat kondisi pasukanya yang sudah kocar - kacir, KH Noer Alie memerintahkan pasukannya untuk mundur, tapi sebagian pasukannya masih tetap bertahan sehingga sekitar tiga puluh orang pasukan Laskar Rakyat gugur dalam pertempuran tersebut.

2. Peristiwa Rawa Gede
Untuk menunjukkan bahwa pertahanan Indonesia masih eksis, dibeberapa tempat MPHS melakukan perang urat syaraf. KH Noer Alie memerintahkan pasukannya bersama masyarakat di Tanjung Karekok, Rawa Gede dan Karawang untuk membuat bendera merah – putih ukuran kecil terbuat dari kertas. Ribuan bendera tersebut lalu ditancapkan di setiap pohon dan rumah penduduk dengan tujuan membangkitkan moral rakyat bahwa ditengah – tengah kekuasaan Belanda masih ada pasukan Indonesia yang terus melakukan perlawanan. Aksi herois tersebut membuat Belanda terperangah dan mengira pemasangan bendera merah-putih tersebut dilakukan oleh TNI, Belanda langsung mencari Mayor Lukas Kustaryo, karena tidak ditemukan Belanda marah dan membantai sekitar empat ratus orang warga sekitar Rawa Gede. Pembantaian yang terkenal dalam laporan De Exceseen Nota Belanda itu disatu sisi mengakibatkan terbunuhnya rakyat, namun disisi lain para para petinggi Belanda dan Indonesia tersadar bahwa disekitar Karawang, Cikampek, Bekasi dan Jakarta masih ada kekuatan Indonesia. Sedangkan citra Belanda kiat terpuruk, karena telah melakukan pembunuhan keji terhadap penduduk yang tidak bedosa.

Dari catatan lain ditemukan bahwa pada tahun 1984 KH Noer Alie kedatangan tamu pakar sejarah dari Belanda yang ditemani oleh seorang penterjemah dari wartawan koran Pelita. Dari pembicaraan Pakar sejarah dari Belanda tersebut terkuak bahwa KH Noer Alie, oleh penjajah Belanda lebih dikenal sebagai Kolenel Noer Alie. “ Ternyata seorang Kolonel Noer Alie bukan tentara yang gagah perkasa. Penampilan anda begitu bersahaja. Bahkan sangat sederhana. Malah pakai kain dan kopiah putih. Saya takjub dengan jati diri Anda “

KH Noer Alie dilingkungan keseharianya dikenal sebagai seorang Kiyai yang sangat peduli dengan pendidikan, cerdas, berani dan sangat dihormati oleh lingkungan sekitarnya. Berdasarkan cerita masayarakat disekitar Desa Ujungharapan Bahaga, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Apabila KH Noer Alie berjalan yang dikenal dengan sebutan “ Engkong Kiyai “ berjalan tidak ada seorangpun baik pejalan kaki ataupun yang memakai kendaraan yang berani mendahului, mereka lebih cendrung untuk memilih jalan lain atau melompati got sebagai jalan pintas apabila terpaksa harus mendahului Engkong Kiyai. Melihat begitu tingginya kharisma yang terpancar dari seorang KH Noer Alie, mulai dari warga atau penduduk sekitar pesantren sampai kepada aparat pemerintahan.

Pada zamannya, tidak ada akses jalan yang rusak disekitar desa karena apabila terjadi kerusakan jalan dan diketahui oleh KH Noer Alie, aparat pemerintah akan langsung buru – buru memperbaiki mengingat besarnya jasa beliau terhadap pembangunan terutama di wilayah Bekasi. Salah satu karya fenomenal yang berhasil diujudkan oleh KH Noer Alie dan sangat perlu menjadi contoh bagi umat saat ini adalah pembangunan dan pembukaan akses jalan secara besar – besaran disekitar Desa Ujungharapan Bahaga, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Dalam setiap jalan yang dibangun beliau tidak pernah mengeluarkan biaya untuk pembebasan tanah warga, tetapi apabila itu merupakan instruksi dari “ Engkong Kiyai “, semua warga dengan sukarela dan ikhlas akan mewakafkan tanahnya seperti pelebaran Gang Perintis pada tahun 1980, beliau terjun langsung memimpin gotong – royong pengerjaannya

Dari sana terlihat bahwa KH Noer Alie bukan seorang tokoh bertipikal elitis atau selalu bersikap populis tapi benar – benar seorang pemimpin yang merakyat yang mau mengerjakan apa yang diucapkan di podium, beliau bukan pemimpin yang hanya bisa bicara dan main perintah saja atau pemimpin yang hanya duduk manis sambil baca Koran ketika berdebat tentang kesejahteraan rakyat merasa dirinya orang yang paling tahu, pada hal tidak tahu apa – apa.

Perjuangan Politik KH Noer Alie.
- Pada tanggal 19 April 1950 KH Noer Alie dipilih sebagai Ketua Masjumi Cabang Jatinegara wakil ketua
Dewan Pemerintahan Daerah Bekasi ( 1950 – 1956 )
- Bersama KH Rojiun, KH Noer Alie menggagas membentuk Lembaga Pendidikan Islam (LPI ) yang salah
satu programnya mendirikan Sekolah Rakyat Islam di Jakarta dan Jawa Barat
- Di Ujung Malang, KH Noer Alie kembali mengaktifkan pesantrennya dengan SRI sebagai lembaga
pendidikan pertama.
- Dalam empat tahun SRI sudah terbentuk di tujuh desa yaitu di Pulo Asem, Wates, Buni Bhakti, Pondok
Soga, Penggarutan, Gabus Pabrik dan Kali Abang Bungur dengan proses belajar mengajar yang sangat
sederhana dengan memanfaatkan rumah, langgar sampai bekas kandang kerbau yang sudah tidak
terpakai
- Pada tahun 1953 karena LPI sudah tidak aktif lagi, KH Noer Alie membentuk organisasi pendidikan
dengan nama Pembangunan Pemeliharaan Pertolongan Islam ( P3 ) yang dijadikan induk bagi SRI,
pesantren dan kegiatan sosial.
- Pada tahun 1954 KH Noer Alie memerintahkan KH Abdul Rahman mendirikan Pesantren Bahagia di
Bekasi ( sekarang Kodim Bekasi ) dengan santri pertamanya diambil dari para santri lulusan SRI
- Pada Tahun 1952 Nahdlatul Ulama di tingkat pusat keluar dari partai Masjumi dan KH Noer Alie besama
beberapa anak buahnya seperti KH Mahadi, Abdullah Syair dan Ya’kub Ahmad membentuk partai
Nahdlatul Ulama di Bekasi
- Pada tahun 1958 KH Noer Alie terpilih sebagai anggota Dewan Konstituante menggantikan Sjafruddin
Prawiranegara yang mengudurkan diri.
- Bersama para ulama dan Tentara Teritorium III, KH Noer Alie ikut membidani pembentukan Majelis
Ulama Jawa Barat.
- Pada tahun 1960 KH Noer Alie aktif menghadang gerakan PKI dan memberikan pandangan kepada
organisasi pelajar dan mahasiswa
- Pada tahun 1966 KH Noer Alie mengaktifkan Majelis Ulama Jawa Barat dengan dukungan Pangdam VI
Siliwangi HR Darsono dan kemudian Majelis Ulama Jawa Barat ini mengispirasi pemerintah pusat untuk
mendidkan Majelis Ulama Indonesia ( MUI )
- Pada Tahun 1972 KH Noer Alie bersama para pemimpin pondok pesantren diantranya KH Sholeh
Iskandar, KH Abdullah Syafi’ie, KH Khair Effendi, KH Tubagus Hasan Basri mendirikan Badan Kerjasama
Pondok Pesantren ( BKSPP ) Jawa Barat dan selanjutnya BKSPP Jawa Barat ini pada masa Presiden BJ
Habibie statusnya ditingkatkan menjadi BKSPP Indonesia
- KH Noer Alie termasuk salah seorang kiai yang bereaksi keras terhadap Rancangan Undang – Undang
Perkawinan ( RUUP ) yang tidak sesuai dengan syariat Islam sampai RUUP itu digagalkan
- Melalui BKSPP KH Noer Alie menentang pelarangan jilbab bagi pelajar muslim ( 1982 – 1983 ) dan
menyatakan ketidak setujuannnya terhadap Rancangan Undang – Undang No 8 tahun 1985 tentang
Organisasi Kemasyarakatan yang wajib mencantumkan Pancasila sebagai satu – satunya azas
- KH Noer Alie juga salah seorang kiai yang menuntut penghapusan Porkas Sepak Bola yang dinilainya
sebagai judi
- Diusia senjanya, KH Noer Alie bersama Bupati Bekasi Suko Martono mendirikan Yayasan Nurul Islam
yang salah satu programnya membangun gedung Islamic Centre Bekasi. Belia juga ikut mendirikan
Forum Ukhuwah Islamiyah ( FUI ) dan aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia ( DDII )

Masih adakah pemimpin zaman sekarang yang seperti beliau ...???!!!

TOKOH BETAWI

Repost : Abam Is

MUALLIM SYAFI'I HADZAMI
Ulama Asli Betawi yang Disegani para Habaib Pada masa kekuasaan Prabu Siliwangi, kawasan Betawi disebut sebagai Sunda Kelapa di bawah kerajaan Pajajaran. Pada Masa kerajaan Islam, kawasan ini berada di bawah kendali Kesultanan Banten, sedangkan ketika Belanda datang, maka ia disebut sebagai Batavia.


Betawi adalah sebuah kawasan yang sangat religius sebelum menjadi seperti yang kita kenali sekarang sebagai kawasan metropolitan dengan berbagai kesibukan pemerintahan, bisnis dan hiburan saat ini. Betawi adalah sebuah tempat yang khas dengan tradisi kesantrian yang berbeda dengan kawasan-kawasan lain di pulau Jawa, baik tanah Pasundan maupun wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Tradisi kesantrian di Betawi sungguh sangatlah unik, karena masyarakat betawi umumnya tidak mengandalkan pesantren dengan asrama tinggal para santri dalam mendidik generasi penerusnya. Betawi memiliki tradisi mengaji yang sedemikian kuat terhadap para ulama di tempat tinggal yang berbeda-beda. Para santri pergi mengaji dan kemudian pulang kembali ke rumahnya begitu pengajian selesai. Mereka dapat berpindah-pindah guru mengaji menurut kecocokan masing-masing santri. Kondisi seperti ini berlangsung hingga tahun 1960-an. Biasanya jika mereka ingin meneruskan pendidikannya, biasanya mereka akan melanjutkan ke Timur Tengah, terutama ke Makkah.



Ulama Betawi ini sejak kecil di asuh oleh kakeknya dari pihak ayah, yang merupakan seorang guru agama yang tinggal di daerah Batu Tulis XIII, Pecenongan yang bernama guru Husin. Karenanya, Syafi’i kecil juga didik sebagai guru agama. Kakeknya ini adalah seorang pensiunan pegawai percetakan yang tidak memiliki anak, sehingga sebenarnya, ia bukanlah kakek langsung, melainkan paman dari ayah Syafi’i. dengan demikian ia memiliki banyak waktu untuk mendidik syafi’i mengaji bersama dengan teman-temannya di samping berdagang kecil-kecilan untuki mengisi waktu senggang. Dari sini terlihat bahwa Syafi’i adalah anak yang cerdas dan ulet, ia tidak suka menyia-nyiakan waktunya hanya untuk bersantai-santai saja.

Kakeknya ini sangat keras dalam mendidik anak-anak, sehingga dalam usia Sembilan tahun, Syafi’i telah berhasil menghatamkan al-Qur’an. Sejak kecil Syafi’i tidak pernah mengalami benturan dengan kakeknya. Meskipun kakeknya ini adalah orang kaya dan pensiunan pegawai percetakan, namun ia sama sekali tidak pernah mencita-citakan cucunya kelak menjadi seorang pegawai juga. Karenanya, kakeknya selalu mengajak Syafi’i ke tempat-tempat pengajian, kemana pun kakeknya ini mengaji. Sebagai seorang guru ngaji, kakeknya juga menginginkan cucunya belajar mengaji dan bergulat di bidang agama.

Sehingga teman-teman dan guru-guru kakeknya, secara otomatis juga menjadi guru langsung dari Syafi’i muda. Di antara teman-teman kakeknya ini adalah, Guru Abdul Fatah yang tinggal di daerah Batu Tulis. Juga kepada Bapak Sholihin di Musholla kakeknya, sehingga Musholla tempatnya mengaji ini kemudian dinamakan dengan Raudhatus Sholihin.

Di antara guru-gurunya tersebut adalah, Habib Ali bin Husein al-Atthas, di Bungur kawasan Senen Jakarta Pusat; Ajengan KH. Abdullah bin Nuh, dari Cianjur Jawa Barat yang aktif berceraman di RRI; Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi, Kwitang Jakarta Pusat; KH. Ya’qub Saidi, Kebun Sirih Jakarta Pusat; KH. Muhammad Ali Hanafiyah: Pekojan Jakarta Barat; KH. Muhtar Muhammad, kebun Sirih; KH. Muhammad Sholeh Mushonnif, Kemayoran Jakarta Pusat; KH.Zahruddin Usman yang berasal dari Jambi; dan sederet ulama-ulama lain di seantero Jakarta, baik yang memang tinggal di Jakarta, maupun para ulama yang sedang bertugas di Jakarta. Syeikh Yasin bin Isa al-Fadani adalah salah satu guru dari Muallim Syafi’i, karena seringkali ketika Syeikh Yasin berkunjung ke Jakarta dan tinggal di tempat salah seorang temannya di Prapanca Jakarta Barat, Muallim Syafi’i selalu menyempatkan hadir di pengajian-pengajian yang di buka oleh Syeikh Yasin di sana.



Kharisma dan Daya Tarik
Termasuk pula yang menjadi daya tarik pengajian Muallim Syafi’i Hadzami adalah karena pengajian-pengajiannya selalu juga dihadiri oleh para Kyai dan teman-teman seperjuangannnya. Bahkan banyak sekali para ulama yang dahulunya adalah guru-guru Muallim Syafi’i, kini menghadiri pengajian-pengajian Beliau sebagai murid atau pendengar.

Sejak awal, Muallim Syafi’i Hadzami telah mengajar ke berbagai majlis ta’lim. Pada tahun 1963, pada usia 32 tahun, Beliau membentuk sebuah Badan Musyawarah Majlis Ta’lim (BMMT) yang diberi nama al-’Asyirotus Syafi’iyyah. Badan ini kemudian berkembang menjadi sebuah Yayasan pada tahun 1975 yang mampu mendirikan sebuah komplek pesantren di kampung Dukuh, kebayoran lama, Jakarta Selatan. Pesantren ini kemudian berkembang mejadi sebuah lembaga pendidikan yang berhasil mengelola pendidikan dari tingkat TK hingga Aliyah. Di komplek pesantren inilah kemudian Muallim Syafi’i tinggal sepanjang usianya. Namun demikian pengajian-pengajian ke berbagai penjuru Jakarta tetp dilakoninya sepanjang hidup. Bahkan hampir-hampir tiada waktu luang untuk sekedar bersantai, karena kalaupun Muallim sedang tidak mengajar, maka Beliau pasti sedang Muthola’ah. Hal ini dikarenakan sedemikian cinta beliau kepada ilmu-ilmu agama. Bahkan karena cintanya ini, ruang tamu di rumahnya pun lebih mirip sebagai perpustakaan.

Gaya bicaranya datar-datar saja namun tertib dan jelas, cara berpakaiannya yang wajar-wajar saja, dan sikapnya yang tenang, serta pembawaannya yang sederhana, menjadikan Muallim disegani oleh seluruh ulama di betawi, baik dari kalangan habaib maupun para ulama Betawi Asli. Hal ini terutama sekali dikarenakan sikap Beliau yang sangat teguh dalam memegang prinsip-prinsip agama. Selain itu Muallim Syafi’i Hadzami juga terkenal sangat rendah hati dan mencintai para muridnya.

Karya-Karya
Muallim Syafi’i Hadzami, selain mendarmabhaktikan seluruh aktivitasnya untuk kemajuan umat Islam, khususnya di daerah Jakarta, Beliau juga memiliki karya-karya tulis yang masih dapat dijadikan referensi hingga sekarang. Karya-karya Muallim hampir semuanya ditulis sebelum era 1980-an meski masih memiliki usia panjang hingga akhir 2006, namun tidak lagi ditemukan karya-karya yang merupakan buah tangan langsung Beliau pada era-1990-an. Beberapa buku memang kemudian banyak di terbitkan, terutama setelah tahun 2000 M. namun kesemuanya adalah kumpulan hasil transkripsi pidato-pidato Muallim, baik dalam pengajian-pengajian darat maupun pengajian-pengajian yang disiarkan melalui gelombang radio.

Karya-karya tersebut antara lain adalah Taudhihul Adillah yang menjelaskan tentang hukum-hukum syariat berikut dengan dalil-dalil dan keterangan-keterangannya; Sullamul Arsy fi Qiro’atil Warsy yang menjelaskan tentang seluk beluk bacaan bacaan al-Qur’an menurut Imam Warsy, kitab ini disusun pada tahun 1956 M. saat berusia 25 tahun.

Sementara karya-karya lain biasanya berupa penjabaran tentang suatu permasalahan, seperti penggalan-penggalan sebuah permasalahan hokum dan ibadah-ibadah tertentu. Karya-karya jenis ini antara lain, Qiyas adalah Hujjah Syariah (1969 M.); Qabliyyah Jum’at; Shalat tarawih; Ujalah Fidyah Sholat (1977 M.) dan Mathmah ar-Ruba fi Ma’rifah ar-Riba (1976 M.).

Karena telah mengenyam manfaat yang demikian besar dari kitab kuning, maka Muallim memiliki kiat-kiat jitu untuk dapat menguasai kitab kuning dengan benar, dengan arti yang sebenarnya. Menurut Muallim, hal pertama-tama yang semestinya dilakukan oleh para santri yang mempelajari kitab kuning adalah menguasai ilmu-ilmu alat, hingga masalah yang sekecil-kecilnya. Ini berarti seorang pembaca kitab kuning haruslah memahami lughat. Artinya harus mengenal lughat yg berbeda-beda, serta harus memiliki rasa penasaran yang tinggi kepada ilmu-ilmu perbandingan madzhab, sehingga tidak kaku dalam memberikan fatwa atau memandang suatu permasalahan hukum.

Hal ini jelas sangat terlihat dari aktivitas-aktivitas muallaim yang bukan hanya di MUI DKI Jakarta saja, melainkan juga di NU. Muallaim sangat rajin menghadiri batsul masail-batsul masail, dan rapat pleno-rapat pleno yang diadakan oleh PBNU, terutama yang diadakan di Jakarta. Hingga pada muktamar NU ke 29 di Cipasung, Tasikmalaya, Muallim Syafi’i Hadzami dipercaya menjadi salah satu Rois Suriah PBNU. Hal ini tentu saja merupakan pengakuan keilmuan dan keulamaan dari NU mengingat jarang sekali ada ulama dari Batawi yang dipercaya untuk menduduki posisi ini.

Karisma keulamaan dalam diri Muallim Syafi’i Hadzami memancar bukan hanya di Indonesia. Kedalaman ilmu Muallim juga dikenal hingga Mekkah dan Hadramaut. Hal ini nampak dari seringnya muallim mendapat kunjungan dari beberapa ulama dan para Habaib dari Hadramaut.

Ba’da mengajar di Masjid Ni’matul Ittihad, tepatnya tanggal 07 mei 2006 M. Muallaim Syafi’I Hadzami merasakan nyeri di dada dan sesak napas. Muallim berpulang ke rahmatullah dalam perjalanan menuju ke Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP). Linangan air mata mengalir mengantarkan kepergian sang guru yang sangat dicintai oleh seluruh penduduk Jakarta ini.

ASAL USUL BUDAYA BETAWI


ASAL-USUL BUDAYA BETAWI

Kebudayaan Betawi secara umum merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Mereka adalah hasil kawin-mawin antaretnis dan bangsa di masa lalu.

Diawali oleh orang Sunda, sebelum abad ke-16 dan masuk ke dalam Kerajaan Tarumanegara serta kemudian pakuan Pajajaran. Selain orang Sunda, terdapat pula pedagang dan pelaut asing dari pesisir utara Jawa, dari berbagai pulau Indonesia Timur, dari Malaka di semenanjung Malaya, bahkan dari Tiongkok serta Gujarat di India.

Waktu Fatahillah dengan tentara Demak menyerang Sunda Kelapa (1526/27), orang Sunda yang membelanya dikalahkan dan mundur ke arah Bogor. Sejak itu, dan untuk beberapa dasawarsa abad ke-16, Jayakarta dihuni orang Banten yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon. Sampai JP Coen menghancurkan Jayakarta (1619), orang Banten bersama saudagar Arab dan Tionghoa tinggal di muara Ciliwung. Selain orang Tionghoa, semua penduduk ini mengundurkan diri ke daerah kesultanan Banten waktu Batavia menggantikan Jayakarta (1619).

Pada awal abad ke-17 perbatasan antara wilayah kekuasaan Banten dan Batavia mula-mula dibentuk oleh Kali Angke dan kemudian Cisadane. Kawasan sekitar Batavia menjadi kosong. Daerah di luar benteng dan tembok kota tidak aman, antara lain karena gerilya Banten dan sisa prajurit Mataram (1628/29) yang tidak mau pulang. Beberapa persetujuan bersama dengan Banten (1659 dan 1684) dan Mataram (1652) menetapkan daerah antara Cisadane dan Citarum sebagai wilayah kompeni. Baru pada akhir abad ke-17 daerah Jakarta sekarang mulai dihuni orang lagi, yang digolongkan menjadi kelompok budak belian dan orang pribumi yang bebas. Sementara itu, orang Belanda jumlahnya masih sedikit sekali. Ini karena sampai pertengahan abad ke-19 mereka kurang disertai wanita Belanda dalam jumlah yang memadai. Akibatnya, benyak perkawinan campuran dan memunculkan sejumlah Indo di Batavia. Tentang para budak itu, sebagian besar, terutama budak wanitanya berasal dari Bali, walaupun tidak pasti mereka itu semua orang Bali. Sebab, Bali menjadi tempat singgah budak belian yang datang dari berbagai pulau di sebelah timurnya.

Sementara itu, orang yang datang dari Tiongkok, semula hanya orang laki-laki, karena itu mereka pun melakukan perkawinan dengan penduduk setempat, terutama wanita Bali dan Nias. Sebagian dari mereka berpegang pada adat Tionghoa (misalnya penduduk dalam kota dan ‘Cina Benteng’ di Tangerang), sebagian membaur dengan pribumi (terutama dengan orang Jawa dan membentuk kelompok Betawi Ora, misalnya di sekitar Parung). Tempat tinggal utama orang Tionghoa adalah Glodok, Pinangsia dan Jatinegara.

Keturunan orang India -orang koja dan orang Bombay tidak begitu besar jumlahnya. Demikian juga dengan orang Arab, sampai orang Hadhramaut datang dalam jumlah besar, kurang lebih tahun 1840. Banyak di antara mereka yang bercampur dengan wanita pribumi, namun tetap berpegang pada ke-Arab-an mereka.

Di dalam kota, orang bukan Belanda yang selamanya merupakan mayoritas besar, terdiri dari orang Tionghoa, orang Mardijker dari India dan Sri Lanka dan ribuan budak dari segala macam suku. Jumlah budak itu kurang lebih setengah dari penghuni Kota Batavia.

Orang Jawa dan Banten tidak diperbolehkan tinggal menetap di dalam kota setelah 1656. Pada tahun 1673, penduduk dalam kota Batavia berjumlah 27.086 orang. Terdiri dari 2.740 orang Belanda dan Indo, 5.362 orang Mardijker, 2.747 orang Tionghoa, 1.339 orang Jawa dan Moor (India), 981 orang Bali dan 611 orang Melayu. Penduduk yang bebas ini ditambah dengan 13.278 orang budak (49 persen) dari bermacam-macam suku dan bangsa (demikian Lekkerkerker).

Sepanjang abad ke-18, kelompok terbesar penduduk kota berstatus budak. Komposisi mereka cepat berubah karena banyak yang mati. Demikian juga dengan orang Mardijker. Karena itu, jumlah mereka turun dengan cepat pada abad itu dan pada awal abad ke-19 mulai diserap dalam kaum Betawi, kecuali kelompok Tugu, yang sebagian kini pindah di Pejambon, di belakang Gereja Immanuel. Orang Tionghoa selamanya bertambah cepat, walaupun sepuluh ribu orang dibunuh pada tahun 1740 di dalam dan di luar kota.

Oleh sebab itu, apa yang disebut dengan orang atau Suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu. Antropolog Univeristas Indonesia, Dr Yasmine Zaki Shahab MA menaksir, etnis Betawi baru terbentuk sekitar seabad lalu, antara tahun 1815-1893.

Perkiraan ini didasarkan atas studi sejarah demografi penduduk Jakarta yang dirintis sejarawan Australia, Lance Casle. Di zaman kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus, di mana dikategorisasikan berdasarkan bangsa atau golongan etnisnya. Dalam data sensus penduduk Jakarta tahun 1615 dan 1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan mengenai golongan etnis Betawi.

Rumah Bugis di bagian utara Jl Mangga Dua di daerah kampung Bugis yang imulai pada tahun 1690. Pada awal abad ke 20 ini masih terdapat beberapa rumah seperti ini di daerah Kota.

Hasil sensus tahun 1893 menunjukkan hilangnya sejumlah golongan etnis yang sebelumnya ada. Misalnya saja orang Arab dan Moors, orang Jawa dan Sunda, orang Sulawesi Selatan, orang Sumbawa, orang Ambon dan Banda, dan orang Melayu. foto pada kartu pos dari awal abad ke 20 menggambarkan rumah-rumah Tiong Hoa di Maester. Jalan ke kiri menuju pasar Jatinegara lama. Sedangkan jalan utama adalah Jatinegara Barat menuju arah selatan. Namun, pada tahun 1930, kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada justru muncul sebagai kategori baru dalam data sensus tahun tersebut. Jumlah orang Betawi sebanyak 778.953 jiwa dan menjadi mayoritas penduduk Batavia waktu itu.

Antropolog Universitas Indonesia lainnya, Prof Dr Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi pada awal pembentukan kelompok etnis itu juga belum mengakar. Dalam pergaulan sehari-hari, mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen, atau orang Rawabelong.

Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis dan sebagai satuan sosial dan politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda, baru muncul pada tahun 1923, saat Moh Husni Thamrin, tokoh masyarakat Betawi mendirikan Perkoempoelan Kaoem Betawi. Baru pada waktu itu pula segenap orang Betawi sadar mereka merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi.

Sejak akhir abad yang lalu dan khususnya setelah kemerdekaan (1945), Jakarta dibanjiri imigran dari seluruh Indonesia, sehingga orang Betawi–dalam arti apapun juga–tinggal sebagai minoritas. Pada tahun 1961, ’suku’ Betawi mencakup kurang lebih 22,9 persen dari antara 2,9 juta penduduk Jakarta pada waktu itu. Mereka semakin terdesak ke pinggiran, bahkan ramai-ramai digusur dan tergusur ke luar Jakarta. Walaupun sebetulnya, ’suku’ Betawi tidaklah pernah tergusur datau digusur dari Jakarta, karena proses asimilasi dari berbagai suku yang ada di Indonesia hingga kini terus berlangsung dan melalui proses panjang itu pulalah ’suku’ Betawi hadir di bumi Nusantara.

DARI :Jabir Sofyan Khamal

Selasa, 16 Agustus 2011


SEKILAS TENTANG TARI TOPENG

Di Jakarta dan sekitarnya (Batavia en Ommelanden) dalam buku W.L. Ritter dan E. Hardouin yang dicetak tahun 1872 menyebut bahwa ada suatu permainan yang popular waktu itu.
Yang disebut “Klein Maskerspel” yaitu suatu Straatvertoningen (tontonan jalanan ) yang diduga berasal dari Topeng Babakan Cirebon.
Pendapat para tokoh Tari Betawi, secara teknis ada tiga persyaratan yang harus dipenuhi oleh calon penari Topeng Betawi agar dapat menghasilkan gerak yang tepat dan benar demi terwujudnya kesatuan gerak tubuh yang estetis dan harmonis yaitu

  • Gandes (luwes),
  • Ajar (ceria) dan
  • Lincah tanpa beban sewaktu menari.
Disamping itu masih ada ketentuan-ketentuan lain yang harus dipenuhi sewaktu menarikan topeng Betawi yaitu mendek, dongko, ngengkreg, madep, megar, ngepang dan lain-lain.
Dalam perkembangannya kini tari Topeng Betawi muncul sebagai pertunjukan tersendiri, kemudian kita kenai sekarang macam-macam tari Topeng Betawi seperti
  • Tari Lipet Gandes,
  • Tari Topeng Tunggal,
  • Tari Enjot-enjotan,
  • tari Gegot,
  • tari Topeng Cantik,
  • tari Topeng Putri,
  • tari Topeng Ekspresi,
  • tari Kang Aji,
  • dan lain-lain.
Mungkin ke dinamisan jenis tari ini membuka celah kemungkinan pengembangan lebih lanjut tanpa menghilangkan sumber ilham dan rohnya yaitu tari Topeng Betawi.
Dapat kita lihat munculnya para penata tari baru yang dihasilkan oleh para penata tari tersebut., yang mengembangkan tari Topeng Betawi dengan berbagai kreatifitas. Muncullah tari-tari kreasi baru seperti:
  • Tari Ngarojeng,
  • Tari Doger Amprok,
  • Tari Gitek Balen
Semoga Bermanfaat Dan Menambah Wawasan !
Referensi : Dinas Kebudayaan Dan Permuseuman Propinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003
Sumber : Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakart

Repost : Abam Is

Masakan Betawi + Arab

Diambil sepenuhnya dari Kompas.com tanpa penambahan dan pengurangan sedikit pun.
Pernah kenal jajanan khas Betawi yang bernama Ali Bagente? Bahkan orang-orang etnis Arab-Betawi pun sudah banyak yang tidak lagi mengenal jajanan ini. Sederhana sekali. Cuma kerak (sisa nasi yang mengeras di pantat kuali ketika menanak) yang dikeringkan, kemudian digoreng, dan disiram kinca (gula merah).
Sop Kikil spesial
Sop kikil spesial.
Dugaan saya, dulunya si Ali sangat suka jajanan ini dan cinta pada orang yang membuatkan jajanan ini untuknya. Karena itu dia lalu bilang: “Ali bah ente.“ (Ali cinta kamu). Maka, serta-merta orang menyebut jajanan itu dengan nama Ali Bagente. Dasar telinga Betawi! He he he ….
Di masa lalu, komunitas Arab-Betawi kebanyakan bermukim di daerah Kebon Pala (kawasan Tanahabang) dan Kebon Nanas (kawasan Jatinegara). Khusus etnis Arab yang berasal dari Pekalongan, ketika pindah ke Jakarta mereka kebanyakan bermukim di daerah Condet Batuampar. Sekarang, karena mulai ’terjepit’ oleh pembangunan, maka banyak warga etnis Arab dari Kebon Pala dan Kebon Nanas yang juga ikut berkumpul di Condet. Menurut seorang warga, hampir 80 persen penduduk Condet sekarang berasal dari keturunan Arab.
Tak heran kalau di Condet sekarang kita banyak menemukan masakan Arab. Di Jalan Otto Iskandardinata (Otista), Jakarta Timur, kini hanya tinggal satu rumah makan masakan Arab, yaitu milik pemain sinetron Haji Nazar Amir.
Belum lama ini saya diajak teman lama – Mas Harun Musawa dan istrinya, Mbak Nunik – makan di kawasan Condet, Jakarta Timur. Saya diajak ke sebuah rumah bercat hijau tanpa papan nama di Jalan Condet Raya. Memasuki rumah sederhana, tampak beberapa meja rendah untuk makan lesehan (duduk di lantai). Di kartu menu disebut ”Hidangan Khas Jawa Timur”. Tetapi, lho, kok tidak ada rawon?
Tulisan itu memang sangat misleading. Pemilik rumah, Thalib Musawa, sebetulnya malah kelahiran Jawa Tengah. “Tetapi, ibu saya dari Banyuwangi,” katanya berkilah. Dan menu makanan yang tercantum di sana semuanya adalah masakan Arab. Gule kacang ijo, misalnya, tentu sebetulnya adalah dalcha.
Gule Merah
Gule Merah.
Kami memesan nasi tomat, sop kikil spesial, dan gule merah. Nasi tomatnya mengingatkan saya pada Nasi Kandar ”Pelita” di Penang, Malaysia. Nasi khas masakan Mamak (Muslim India). Tomat direbus, lalu dibuang kulitnya. Air rebusan dan tomatnya dipakai untuk menanak nasi yang dibumbui. Karena itu, rasa asam dari tomatnya terasa nendang banget pada sajian ini. Dalam nasi tomat itu juga saya temukan salam koja (sering disebut juga sebagai daun kari) yang memang banyak dipakai sebagai bumbu masakan Arab.
Gule merahnya sangat medok. Sangat bersantan dan berbumbu. Dagingnya empuk. Sop kikilnya berkuah encer, tapi dagingnya empuk – kikil yang masih menempel di kaki kambing. Kalau mau kuah yang kental, harus bilang kaldu kikil ketika memesan.
Pada tiap hari Jumat, Thalib juga menyediakan menu khusus yang disebut harisa – bubur daging kambing dengan oatmeal (havermout, bubur gandum). Harisa disajikan dalam mangkuk, dan dibubuhi sesendok mentega di atasnya. (Hmm, minyak samin tentu lebih afdol, ya, mestinya?). Sesendok pertama yang saya cicipi membuat saya langsung berpikir ke corned beef. Havermout-nya basa-basi banget. Yang lebih banyak justru daging kambing yang sudah dimasak lama hingga sangat empuk dan sudah hancur. Sangat machtig! Berbeda dengan bubur kambing a la Pekalongan (pakai beras dan banyak bawang merah) yang pernah saya cicipi di tempat William Wongso. Kata salah seorang tamu lain, kalau mau makan harisa yang paling enak, harus cari di daerah Kwitang. Well, not my cup of tea!
Di meja juga tersedia roti untuk sarapan atau cemilan yang disebut roti mariam (kadang-kadang disebut juga sebagai roti konde). Sangat mirip roti canai, tetapi dalam versi lebih bantat. Dimakan dengan taburan gula halus dan kayu manis – menjadikannya sangat mirip danish roll.
Tidak jauh dari rumah makan Thalib Musawa, ada sebuah rumah makan Arab lain yang lebih terkenal. Namanya ”RM Puas”. Jangan salah, ini bukan cabang ”RM Puas” di Pekalongan yang legendaris karena nasi kebulinya yang kondang ke mana-mana. ”Puas” sebenarnya adalah perusahaan jasaboga (catering) merangkap rumah makan yang sudah punya tiga gerai di Jakarta, yaitu di dekat Mesjid As-Sholihin Condet, di belakang RCTI Kebon Jeruk, dan di Jalan Raya Jatiwaringin.
Ha, mungkin ketika membaca tulisan ini ada di antara Anda yang sambil bertanya-tanya: ke mana gerangan nasi kebuli lezat yang dulu mangkal di Hotel Sriwijaya, Jalan Veteran, Jakarta Pusat? Ya, inilah dia! Shadiq Assegaff, pemiliknya, memang sudah menutup gerai yang di Hotel Sriwijaya dan pindah ke Condet untuk mendekati stakeholders-nya yang banyak bermukim di sana.
Hidangan unggulan ”Puas” adalah roti jala dan roti canai. Keduanya bisa dimakan dengan kari kambing (atau ayam) yang bisa bikin lidah berdansa. Tentu saja “Puas” juga punya nasi kebuli (ayam dan kambing) yang banyak disukai orang. Jangan lewatkan sambosa untuk appetizer dan kue srikaya sebagai pencuci mulut. Martabak “Puas” juga punya penggemar luas.
Selain versi rumah makan dan restoran, ternyata, di Jakarta juga ada masakan Arab yang dikemas dalam versi gaul. Coba singgah ke “Little Baghdad” di daerah Kemang. Kafe yang hanya buka malam ini merupakan salah satu tempat rendezvous favorit para remaja. Kalaupun makanannya tidak hebat-hebat amat, di sini mereka bisa mengisap sheessa – merokok menggunakan pipa air khas Timur Tengah.
Di Jakarta ada beberapa restoran yang menghidangkan masakan Arab. Di daerah Petamburan, misalnya, ada ”Sindbad” yang terkenal dengan nasi briyani dan nasi kebuli-nya. Di Jalan Raden Saleh juga ada beberapa restoran yang menyajikan masakan Timur Tengah. Tetapi, bagi warga etnis Arab, restoran-restoran yang saya sebut tadi lebih ’meng-India’. Masakan India memang lebih kaya bumbu dibanding masakan Arab. Ada juga ”Anatolia” di Kemang yang lebih berciri Turki.
Bagaimana pula dengan nasi goreng kambing? Ah, kalau kita mengenal masakan peranakan yang merupakan campuran seni masak Indonesia-Tionghoa, mungkin nasgorkam ini termasuk gagrak cara masak silang Indonesia-Arab.
Yang dianggap otentik masakan Arab adalah restoran ”Hadramaut” di Jalan Tambak. Hadramaut adalah nama lain dari Yaman (Yemen). Menu ”Hadramaut” sangat sederhana dan straightforward: kambing atau ayam. Kalau siang hanya ada mandhi (kambing atau ayam yang dimasak dalam oven khusus di dalam tanah). Sedang malam harinya cuma ada madbhi (kambing atau ayam panggang/bakar). Kambing atau ayam disajikan bersama nasi berbumbu gurih (semacam nasi kebuli). Dagingnya sangat empuk. Kalaupun ada sayuran, salad yang dihidangkan (harus dipesan khusus) hanya terdiri atas irisan timun dan bawang bombai.
Yang unik, di ”Hadramaut” kita bisa makan mengikuti tradisi Arab yang khas. Kalau kita makan berempat, misalnya, nasi dan lauknya akan dihidangkan dalam satu talam besar, dan kita berempat makan ramai-ramai secara komunal dari satu talam yang sama. Jangan lupa memesan kopi yang dahsyat. Nikmat, dah!
Nasi tomat
Nasi tomat.
Ahlan wasahlan!
Abam Is