Tampilkan postingan dengan label Ragam budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ragam budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Agustus 2011


BAHASA DAN BUDAYA BETAWI PUNAH ATAU BERMETAMORFOSIS

BAHASA DAN BUDAYA BETAWI PUNAH ATAU BERMETA MORFOSIS.........................Banyak orang betawi yang sudah melupakan adat budayanya. Banyak faktor memang yang mendukung terjadinya hal ini, posisi Jakarta yang kebetulan ketempatan sebagai ibu kota negara, hal ini mengakibatkan perkembangan kota jakarta yang diatas rata-rata daerah lain di indonesia, kemajauan diberbagai aspek serta pertumbuhan jumlah penduduk, baik secara alami ataupun pendatang, jelas sangat mempengaruhi adat kebiasaan orang betawi.

Penggunaan bahasa betawi asli dalam lingkungan masyarakat betawi sendiri sudah semakin jarang dipakai, kebanyakan orang betawi lebih suka memakai bahasa pop jakarta, sebagai contoh penggunaan panggilan “babeh” dan “enyak” dalam keluarga betawi sudah sangat jarang dipakai bukan saja oleh orang betawi pada umumnya, bahkan saya yakin dengan seyakin-yakin-nya jika kita mengadakan survei terhadap para dedengkot betawi yang bergabung dalam bamus betawi ataupun para sesepuh di lembaga kebudayaan betawi, sebagai benteng terakhir pelestari budaya betawi sekalipun, kita mungkin sangat sulit menemukan ada yang masih menggunakan panggilan “babeh” dan “enyak” dalam keluarga mereka. Mungkin istilah-istilah itu sekarang Cuma bisa kita dapatkan pada sinetron-sinetron yang berlatar budaya betawi pada televisi kita.

Begitu pula halnya dengan penggunaan budaya betawi dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan, kita sekarang sangat jarang menyaksikan hiburan khas betawi pada acara-acara orang betawi seperti acara perkawinan atau khitanan. Seingat saya sewaktu kecil, lenong, cokek atau gambang kromong adalah hal yang biasa ada pada acara orang betawi terutama di betawi pinggiran dimana saya tinggal, tetapi sekarang orang lebih suka “nanggap” Dangdut, organ tunggal atau layar tancap pada pesta-pesta mereka, begitupun upacara-upacara adat siklus hidup orang betawi, seperti yang ditulis Yahya Andi Saputra dalam bukunya, sekalipun ada terkesan asal jadi yang penting ada.

Ironis nya beberapa waktu lalu sekelompok orang dari beberapa elemen organisasi betawi berdemo menoalk Aurora Tambunan sebagai kepala dinas Kebudayaan dengan alasan “kurang Betawi”, dan pernah juga elemen pemuda betawi berdemo menuntut pemda DKI membuat semacam peraturan daerah agar gedung-gedung di Jakarta (atau minimal pintu gerbangnya) dibangun dengan arsitektur betawi untuk melestarikan kebudayaan betawi atau setidak-tidaknya menunjukan ciri khas, seperti di Bali atau Sumatera Barat.

Yang jadi permasalahan, rasa tanggung jawab mempertahankan ke-Betawi-an dalam berbahasa dan berbudaya orang betawi kurang sekali. Tetapi kita malah menuntut orang lain untuk melestarikan budaya kita. Jika ciri khas adat istiadat, budaya kita sendiri kita tanggalkan, bagaimana mungkin untuk melestarikannya. Mestinya kita belajar dari suku minang, kecintaan mereka terhadap adat-budayanya membuat mereka membawa adat-budaya itu kemanapun mereka pergi, dimanapun ada orang minang kita pasti dengan mudah menemukan warung masakan padang dengan rumah bagonjong nya.

Keberadaan budaya Betawi, termasuk kesenian tradisionalnya dalam beragam bentuk seperti tari-tarian, teater, nyanyian, musik, dan sebagainya, merupakan aset wisata yang eksotik. Sudah sepatutnya berkembang sebagaimana kesenian tradisional dari etnis lain.Tak sedikit tim kesenian dari Indonesia yang diwakili Betawi pentas keliling dunia, mendapat sambutan luar biasa dimanca negara. Sementara di Tanah Airnya sendiri seolah kurang mendapat tempat. Bahkan regenerasinya pun acap mengalami kendala. Kendalanya, selain besarnya pengaruh globalisasi, generasi muda Betawi juga sangat sedikit yang mau mempelajari sekaligus meneruskan kesenian tradisi mereka.

Permasalahan ini merupakan tanggung jawab bersama untuk kelestarian adat dan budaya betawi. Menggunakan satu bahasa apapun adalah hak pribadi seseorang, tapi bahasa menunjukkan bangsa, bahasa dan budaya menunjukan jati diri kita. Melestarikan adat dan budaya juga salah satu bentuk kecintaan terhadap negara atau daerah kita sendiri. Meskipun sekarang ini kita patut berbangga karena sekarang sudah ada program berita televisi yang menggunakan bahasa betawi sebagai bahasa pengantar nya.

Kemunduran ini tentu sangat memprihatinkan. Kepunahan bahasa adalah juga kepunahan sejarah peradaban. Jika satu kaum berhenti menggunakan suatu bahasa, maka kaum tersebut kehilangan beberapa kemampuan natural dari bahasa mereka. Jika bahasa betawi lenyap, maka satu babak sejarah betawi juga akan hilang.

Memang ada teori yang menyebutkan bahwa betawi sebagai suku berikut adat istiadat serta bahasanya, adalah hasil akulturasi budaya dari suku-suku lain yang datang ke tanah Jakarta yang berlangsung selama ratusan tahun. Kalau kita berpatokan pada teori ini, kita tidaklah terlalu khawatir, karena mungkin saja budaya betawi sedang ber-metamorfosis kedalam bentuk budaya baru yang merupakan gabungan dari budaya yang telah ada dengan budaya pop jakarta yang sekarang berkembang serta merupakan percampuran berbagai budaya dari bermacam-macam suku, sehingga melahirkan budaya yang benar-benar baru.**

RAGAM BUDAYA


LENONG BETAWI

Lenong sebagai tontonan, sudah dikenal sejak 1920-an. Salah satu seniman Betawi terkenal, menyebutnya kelanjutan dari proses teaterisasi dan perkembangan musik Gambang Kromong. Jadi, Lenong adalah alunan Gambang Kromong yang ditambah unsur bodoran alias lawakan tanpa plot cerita.



Kemudian berkembang menjadi lakon-lakon berisi banyolan pendek, yang dirangkai dalam cerita tak berhubungan. Lantas menjadi pertunjukan semalam suntuk, dengan lakon panjang utuh, yang dipertunjukkan lewat ngamen keliling kampung. Selepas zaman penjajahan Belanda, lenong naik pangkat, karena mulai dipertunjukkan di panggung hajatan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung.

Saat itu, dekornya masih sangat sederhana, berupa layar sekitar 3×5 meter bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen, obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum meningkat jadi petromaks.

Walaupun terus menyesuaikan diri dengan maunya zaman, untuk terus survive, lenong harus berjuang keras. Dan ini tak mudah. Tahun 60′-an, masih dengan mengandalkan durasi pertunjukan semalam suntuk dan konsep dramaturgi sangat sederhana, lenong mulai kedodoran. “Rasanya, kini lenong seperti berada di pinggir jurang,”

Itu sebabnya, tahun 70-an, bersama para dedengkot Taman Ismail Marzuki (TIM), bertekad menggaet lenong ke tempat terhormat, lewat revitalisasi lenong. Intinya, memberi kesempatan manggung sebanyak-banyaknya buat para seniman kocak itu. “Agar nama mereka ikut terangkat,”

Di TIM, durasi lenong yang semalam suntuk disunat jadi tiga jam saja. Selain itu, dramaturgi sederhana ikut diperkenalkan kepada pemain. “disana mulai diajarkan dialog, artikulasi, frasa, nuansa dan bloking sebagai bagian dari dinamika pementasan,” Selain itu mereka juga diperkenalkan tata panggung yang lebih realistis. Mulai pemakaian make-up untuk menggantikan cemongan dan bedak, pemasangan hair creppe buat kumis dan jenggot, hingga special effect untuk darah dan luka.

Selama beberapa tahun, lenong ngetrend di TIM dan tempat-tempat pertunjukan lainnya. Anak lenong seperti Bokir, Nasir, Anen, Nirin, M.Toha, Bu Siti, Naserin ikutan beken. Kehidupan mereka pun terangkat lewat tawaran iklan, penampilan di TVRI, bahkan main film layar lebar.

Dibedakan pakaian

Tapi, jangan salah, lenong sendiri banyak macamnya, Cing. Drama rakyat yang populer di TIM dan TVRI, dengan lakon bertemakan cerita sehari-hari seperti rakyat yang tergencet pajak tuan tanah, disebut Lenong Preman. Alasannya gampang, karena pakaian para pemainnya tidak ditentukan sang sutradara. Jadi, boleh pakai baju sesuka hati, asal tak melenceng dari peran.

Di ujung cerita, biasanya muncul jagoan dari kalangan santri (pendekar taat beribadah) yang bertindak sebagai pembela rakyat. Mereka menyebut para jawara itu berkarakter Robin Hood, merampok orang kaya guna menolong si miskin. Nah, karena penonjolan peran jagoan-jagoan itulah, Lenong Preman dinamai juga Lenong Jago.

Jika ada pemain berpakaian preman, mestinya ada juga yang berbaju resmi. Orang Betawi menyebutnya pakaian denes (dinas, red). Sayang, perkembangan Lenong Denes tak seharum rekan-rekannya di kelompok Preman. Barangkali, karena butuh modal besar untuk tampil di panggung. Maklum, pemainnya harus pakai seragam sesuai tuntutan cerita, yang sebagian besar bertutur tentang kisah-kisah 1001 malam.

Pada dasarnya, Lenong Preman dan Denes memang cuma dibedakan dari pakaian yang dikenakan. Karena pakem-pakem lainnya tetap seragam. Seperti aturan bahwa pemain harus masuk dari sisi kanan panggung dan keluar dari sisi kiri. Serta pakem terpenting yang tak bisa ditawar-tawar, musik pengiring gambang kromong. “Di luar itu, ya bukan lenong,”

Gambang kromong sendiri mirip perlengkapan band, terdiri atas berbagai instrumen. Berturut-turut gambang (alat musik dengan banyak sumber suara, terdiri dari 18 buah bilah terbuat dari kayu. Dikenal juga dalam tradisi Jawa dan Sunda), teh yan (semacam rebab berukuran kecil, berasal dari Cina), kong an yan (rebab berukuran sedang, juga berasal dari Cina), shu kong (rebab berukuran besar dari Cina), ning-nong (mirip gamelen Jawa dan Sunda, terbuat dari perunggu).

Selain itu, masih ada kemong (sejenis gong kecil, mirip gamelan Jawa atau Sunda), kromong (gamelan yang dapat menghasilkan 10 sumber suara), kecrek (bilah perunggu yang diberi landasan kayu untuk dipukul-pukul, sehingga berbunyi crek,crek), serta kendang (tambur dengan dua permukaan, berasal dari Jawa, Sunda atau Bali).

Melihat sejarahnya, gambang kromong konon berasal dan berkembang di Betawi Tengah, seperti kawasan Tanah Abang, Senen, Salemba, Jatinegara dan sekitarnya. Di pinggir Jakarta, “Mereka tetap mempertahankan pakem asli lenong, kecuali musik pengiringnya yang diganti tanjidor”. Kok tanjidor? “Karena musik jenis itulah yang berkembang pesat dan menjadi jati diri masyarakat Betawi pinggiran,”. Buat gampangnya, lenong jenis ini kemudian dinamai jinong, kependekan dari tanjidor dan lenong.

Jenis lenong

Terdapat dua jenis lenong yaitu lenong denes dan lenong preman. Dalam lenong denes (dari kata denes dalam dialek Betawi yang berarti “dinas” atau “resmi”), aktor dan aktrisnya umumnya mengenakan busana formal dan kisahnya mengenai kerajaan atau lingkungan kaum bangsawan, sedangkan dalam lenong preman busana yang dikenakan tidak ditentukan oleh sutradara dan umumnya berkisah tentang kehidupan sehari-hari. Selain itu, kedua jenis lenong ini juga dibedakan dari bahasa yang digunakan; lenong denes umumnya menggunakan bahasa yang halus (bahasa Melayu tinggi), sedangkan lenong preman menggunakan bahasa percakapan sehari-hari.

Kisah yang dilakonkan dalam lenong preman misalnya adalah kisah rakyat yang ditindas oleh tuan tanah dengan pemungutan pajak dan munculnya tokoh pendekar taat beribadah yang membela rakyat dan melawan si tuan tanah jahat. Sementara itu, contoh kisah lenong denes adalah kisah-kisah 1001 malam.

Pada perkembangannya, lenong preman lebih populer dan berkembang dibandingkan lenong denes

Nebeng, tapi diterima

Gencarnya “kampanye lenong” di TIM dan TVRI, bukan hanya membawa dampak positif buat mata pencaharian pelakonnya. Tapi juga menyebarkan pengaruh, orang Betawi menyebutnya sebagai “hikmah budaya”, yakni merasuknya dialek Betawi ke seluruh nusantara. Memang, “hasil finalnya” tak seperti bahasa Betawi baku yang sering terdengar di pemukiman.

Tapi berkembang lagi menjadi “bahasa metro”, karena sudah bercampur dengan idiom-idiom bahasa Indonesia dan daerah tertentu. Toh, Bokir, Nasir, Bu Siti atau Mandra bisa dibilang sukses mensosialisasikan dialek ‘kampung” itu, bahkan “mengangkatnya” menjadi bahasa pergaulan remaja.

Pengaruh lain, berdirinya teater-teater pop yang ke-Betawi-Betawian. Seperti Teater Mama (Mat Solar) dan Teater Mira (Nazar Amir) di tahun 80-an, maupun yang muncul dan ngetop di era 90-an, Lenong Rumpi dan Lenong Bocah. Produk-produk yang nebeng kepopuleran lenong ini terbukti bisa diterima masyarakat, meski masa kejayaannya terbatas.

Sayangnya, kini sang teater rakyat malah terus tenggelam. Frekwensi pemunculannya di televisi mulai jauh berkurang, sementara panggung hajatan mulai enggan mengundang, barangkali karena nama lenong sudah kelewat besar buat menghibur acara kawinan. “Pamornya memang sedang meredup,”

Lenong Preman masih mendingan, karena terkadang masih ada jadwal mentas di Anjungan DKI TMII. Tapi Lenong Denes? Pertunjukannya makin langka, seiring berkurangnya minat para “penanggap”. Tak heran jika pemain lenong muda merasa asing dengan konsep Denes ini. Di sisi lain, pemain yang dulu menggerakkan Lenong Denes, satu persatu dimakan usia, tanpa sempat menyiapkan pengganti.

RAGAM BUDAYA


PERMAINAN ANAK BETAWI

Permainan anak-anak Betawi pada hakekatnya tidak
banyak berbeda dengan permainan anak-anak dari daerah-daerah lain di
Indonesia, terutama dengan permainan anak-anak di Jawa. Anehnya
kesamaan ini bukan dengan permainan anak-anak Priangan, padahal
wilayahnya lebih dekat, bahkan berbatasan dengan Betawi. Hal ini
kemungkinan besar karena banyak suku Jawa yang terdampar di pinggiran
Betawi-yaitu prajurit-prajurit Sultan Agung Mataram yang menyerang
Batavia pada antara tahun 1613-1645.

Beberapa macam permainan
anak-anak Betawi tersebut, perbedaannya hanya pada nama dan nyayiannya
saja, sedangkan esensinya sama. Misalnya nyanyian anak-anak Jawa
“Cublak-Cublak Suweng”, di Betawi juga ada yaitu “Cublak-Cublak uang”.

Kelebihan
permaianan anak-anak Betawi mungkin pada jumlahnya yang kaya
Diperkirakan ada sekitar 40 macam. Ini dapat dimengerti lantaran etnis
Betawi terbentuk oleh perpaduan berbagai etnis. Setiap etnis mungkin
memberikan sumbangan ide dan pola permainan anak-anak dari daerahnya
masing-masing.

Mengapa punah?
Permainan anak-anak Betawi
dewasa ini makin punah. Faktor penyebab kepunahannya sama dengan
penyebab kepunahan unsur-unsur Budaya Betawi lainnya, yaitu pengaruh
kota besar yang terus-menerus dilanda pembangunan yang pesat dan
masuknya moderisasi di sengala bidang kehidupan, baik fisik maupun alam
pikiran. Lenyapnya tanah-tanah kosong tempat anak-anak bermain, serta
hadirnya sarana hiburan yang ditunjang teknologi modern seperti Play
Stastion, Sega, VCD,DVD, dan komputer serta televisi, telah mengurangi
minat anak-anak untuk bermain secara tradisioanal. Padahal keindahan
dan kenikmatan melakukan permainan tranisioanal, relatif tidak kalah
dari sarana hiburan mutakhir.

Pendidikan dan falsafah
Di
dalam beberapa jenis permainan anak-anak Betawi, jika di simak lebih
teliti, sesungguhnya banyak mengandung aspek pendidikan dan falsafah
hidup.

Misalnya permainan Petak Torti. Permainan mencari teman
yang bersembunyi ini biasanya dilakukan malam hari. Padahal kota
jakarta pada waktu dulu tidak seterang sekarang. Masih banyak yang sepi
dan gelap. Banyak pula pepohonan yang rimbun dan semak-semak. Bererapa
tempat bahkan di bilang tempat yang angker alias banyak setannya.

Disini
jelas maksudnya, bahwa anak-anak Betawi yang bermain Petak Torti,
otomatis diajar menjadi orang yang pemberani. Sifat berani penting bagi
kehidupan Betawi yang lokasi etnisnya setiap hari berhadapan dengan
penjajah, pemeras, lintah darat, penjahat, yang terdiri dari tuan-tuan
tanah dan kaki tangannya itulah seba, “Besile di rume ngaji Qur’an.
Turun ke pelantaran maen pukulan”

Ada lagi permainan Tok Tok
Pintu Atau Gali Gali ubi. Permainan ini jelas melambangkan agar anak
Betawi hendaknya bermurah hati. harta-benda kepada yang membutuhkan,
Apabila kita telah merasa cukup dan berlatih. Permainan ini ada
dialognya yang khas, sebagai berikut:

Tok-tok-tok buka pintu!
Siape?
Nenek Gerondong
Minta ape? bedaon atu
Minta ubi
Ubinye baru

Nenek
Gerondong mengulang lagi permintaannya setelah ia berjalan memutar.
Jawabannya yang diterima sudah berubah menjadi “Bedaon tiga”. Barulah
ubi boleh diminta. Itu berarti ubi sudah berdaun cukup, sudah besar dan
masak. Sehingga boleh diminta orang lain. Maka berikanlah, jangan
kikir. Disini, ubi melambangkan harta-benda.

Macam-macam Permainan
Dari
sekian banyak bentuk permainan anak-anak Betawi yang amat spesifik,
terutama karena ada nyayiannya, dapatlah disebutkan disisi sebagai
berikut:

1. Deng-Ndengan
Dimainkan oleh laki-laki atau
perempuan, usia 11 tahun ke bawah. Tiga anak berpegangan tangan sambil
direntangkan. Kemudian mereka berjalan berbarengan sambil bernyanyi:
Deng-ndengan, sirih tampi berduri-duri
Mandi kembang, kembang melati
Bok breoook… !
Ketika menyanyikan kata terakhir “bok breoook”, anak-anak itu berjongkok serempak. Dan begitu seterusnya berulang-ulang.

2. Wak-wak Gung
Dimainkan
oleh anak perempuan dan laki-laki. Dua anak berdiri berpenggangan
tangan membuat lorong. Anak-anak yang lain berjalan berputar membentuk
barisan seperti ular, kemudian memasuki lorong satu persatu. Giliran
anak yang terakhir, anak itu di kurung di dalam lorong. Dan begitu
seterusnya, sambil mereka bernyanyi-nyanyi:
Wak-wak Gung, nasinye nasi jagung,
Lalapnye lalap utan,
Sarang gaok di pu’un jagung, gang-ging-gung!
Pit-alaipit, kuda lari kejepit… sipit!

Disambung dengan nyanyian lain:
Tamtam buku, seleret daon delime,
Pate lembing, pate paku, tarik belimbing, tangkep Satu
Kosong-kosong-kosong! Isi-isi-isi….!

3. Ciblak-ciblak Uang
Seorang
anak membungkukkan Anak-anak lain menaruh tangannya yang dikepalkan di
pungung anak tadi. Di dalam genggaman salah seorang anak ada sebuah
batu kecil. Anak yang membungkukkan badan itulah yang harus menebak,
anak mana yang memengang batu.
Sambil bermain mereka bernyanyi:
Ciblak-ciblak uangnye manggulenteng,
Ambu tata, ambu titi, ketulung bung-bung,
Bok Eran, Bok Eran, si anu mau kawin,
Potong kerbo pendek, potong kerbo tinggi,
Gamelan jegar-jegur.
Ta-em-em, ta-em-em
Kereta-keritu, siape yang pegang batu?
Di depan pintu dipunggut mantu.

Kalau tebakannya tepat, maka anak yang memegang batu harus ganti membungkuk.

4. Ci-ci Puteri
Tangan
terkepal, jempol diacungkan ke atas. Lalu tangan-tangan itu disusun
saling tindih. Tangan yang di atas memegang jembol tangan yang di
bawah, sambil bernyanyi:
Ci-ci puteri, tembako lime kati
Mak None, Mak None, si Siti mau kembang ape?
Siti menjawab: Mau kembang duren!
Pulang-pulang babenye keren!

Kalau Siti bilang kembang terompet, maka anak-anak yang lain akan berseru,”Pulang-pulang babenye ngepet!”
Jadi harus ada persamaan bunyi pada suku kata terakhir.

Aneka Macam Main Petak
Main
petak ada bermacam-macam. Yang penting lawan harus dikenai. Kena dalam
arti”terlihat” atau betul-betul tersentuh.Ada lima macam main petak, di
antaranya:

1. Petak Torti
Ada nyanyiannya yang khas: Torti! Sambel godok ayam puti, cewek montok bau terasi
2. Petak Umpet
3. Petak inggo
Inggo artinya titik awal atau pos. Anak-anak yang dikejar akan terbebas dari kejaran kalau mereka sudah tiba di titik inggo.
4. Petak Jongkok
Anak-anak yang dikejar akan terbebas dari kejaran, kalau mereka segera berjongkok.

Dan
ada banyak lagi permainan lainnya semisal: Pletokan, gundu, tombok,
ketok kadal, congklak, galah asin, jangkungan, sumpritan atau
jumparing, jepretan, main karet, dampu, gangsing, bentengan,
landar-lundur, bekel, olelio, rage, serta beberapa lagi yang belum
tercatat.

Bagaimanapun juga, permainan anak-anak tersebut perlu
digalakkan kembali kendati jaman telah berubah. Perlu diingat perubahan
itu harus memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang tinggi. Untuk itu,
unsur budaya – dalam hal ini permainan anak-anak haruslah pula
digalakkan dan disebarluaskan karena apat membantu manusia mencapai
peradaban yang lebih manusiawi, yang memiliki etika yang baik
dari Jabir Sofyan Khamal

RAGAM BUDAYA


ONDEL-ONDEL BETAWI

Ondel-ondel adalah pertunjukan rakyat yang sudah berabad-abad terdapat di Jakarta dan sekitarnya, yang dewasa ini menjadi wilayah Betawi. Walaupun pertunjukan rakyat semacam itu terdapat pula di beberapa tempat lain seperti di Priangan dikenal dengan sebutan Badawang, di Cirebon disebut Barongan Buncis dan di Bali disebut Barong Landung, tetapi ondel-ondel memiliki karakteristik yang khas. Ondel-ondel tergolong salah satu bentuk teater tanpa tutur, karena pada mulanya dijadikan personifikasi leluhur atau nenek moyang, pelindung keselamatan kampung dan seisinya. Dengan demikian dapat dianggap sebagai pembawa lakon atau cerita, sebagaimana halnya dengan “bekakak” dalam upacara “potong bekakak” digunung gamping disebelah selatan kota Yogyakarta, yang diselenggarakan pada bulan sapar setiap tahun.

Ondel-ondel berbentuk boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada didalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi. Mukanya berbentuk topeng atau kedok, dengan mata bundar (bulat) melotot.

Ondel-ondel yang menggambarkan laki-laki mukanya bercat merah, yang menggambarkan perempuan bermuka putih atau kuning. Ondel-ondel biasanya digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, seperti mengarak pengantin sunat dan sebagainya. Lazimnya dibawa sepasang saja, laki dan perempuan. Tetapi dewasa ini tergantung dari permintaan yang empunya hajat. Bahkan dalam perayaan-perayaan umum seperti ulang tahun hari jadi kota Jakarta, biasa pula dibawa beberapa pasang, sehingga merupakan arak-arakan tersendiri yang cukup meriah.

Musik pengiring ondel-ondel tidak tertentu, tergantung masing-masing rombongan. Ada yang diiringi Tanjidor, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Gejen, kampung Setu. Ada yang diiringi gendang pencak Betawi seperti rombongan “Beringin Sakti” pimpinan Duloh (alm), sekarang pimpinan Yasin, dari Rawasari. Adapula yang diiringi Bende, “Kemes”, Ningnong dan Rebana Ketimpring, seperti rombongan ondel-ondel pimpinan Lamoh, kalideres

Disamping untuk memeriahkan arak-arakan pada masa yang lalu biasa pula mengadakan pertunjukan keliling, “Ngamen”. Terutama pada perayaan-perayaan Tahun Baru, baik masehi maupun Imlek. Sasaran pada perayaan Tahun Baru Masehi daerah Menteng, yang banyak dihuni orang-orang Kristen.Pendukung utama kesenian ondel-ondel petani yang termasuk “abangan”, khususnya yang terdapat di daerah pinggiran kota Jakarta dan sekitarnya.

Pembuatan ondel-ondel dilakukan secara tertib, baik waktu membentuk kedoknya demikian pula pada waktu menganyam badannya dengan bahan bambu. Sebelum pekerjaan dimulai, biasanya disediakan sesajen yang antara lain berisi bubur merah putih, rujak-rujakan tujuh rupa, bunga-bungaan tujuh macam dan sebagainya, disamping sudah pasti di bakari kemenyan. Demikian pula ondel-ondel yang sudah jadi, biasa pula disediakan sesajen dan dibakari kemenyan, disertai mantera-mantera ditujukan kepada roh halus yang dianggap menunggui ondel-ondel tersebut. Sebelum dikeluarkan dari tempat penyimpanan, bila akan berangkat main, senantias diadakan sesajen. Pembakaran kemenyan dilakukan oleh pimpinan rombongan, atau salah seorang yang dituakan. Menurut istilah setempat upacara demikian disebut “Ukup” atau “ngukup”.