Kamis, 15 Desember 2011
Jumat, 25 November 2011
Setu Babakan Kampung Betawi yang Tersisa
Setu Babakan Kampung Betawi yang Tersisa

Mengenal budaya Betawi, rasanya kurang afdol tanpa menjejakan kaki di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Karena bisa dibilang Perkampungan Budaya Betawi yang terletak di Jalan Setu Babakan ini merupakan pusat dari kebudayaan Betawi yang tersisa.
Sebagai Ibukota negara, Jakarta mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pembangunan di semua sisi gencar d
ilakukan oleh pemerintah. Gedung-gedung bertingkat dibangun di hampir tiap sudut kota. Infrastruktur untuk penunjang denyut kota juga dibangun dan diperluas. Perkembangan ini seakan memberikan pengharapan yang besar bagi masyarakat diluar Jakarta.
Tak salah jika dalam sekejap Jakarta menjadi tujuan utama para pendatang. Dari 13 juta penduduk Jakarta, bisa dibilang sebagian besarnya adalah warga pendatang yang mencoba mengadu nasib di ibukota. Sementara warga asli yang dikenal sebagai penduduk Betawi tersingkarkan ke tepi Jakarta.
Jakarta yang kini sudah tidak lagi milik orang Betawi tidak sama sekali meninggalkan corak budaya aslinya. Corak Betawi di Jakarta hampir tidak terlihat lagi, walaupun ada hanya sebatas aksen penduduknya saja. Saat ini budaya Jakarta sudah merupakan campuran dari berbagai macam budaya yang dibawa penduduknya.
Melihat budaya Betawi tersingkirkan oleh roda pertumbuhan kota Jakarta, para tokoh Betawi merasa cemas dan berinisiatif untuk mendirikan suatu kampung budaya. Hal ini untuk menjaga agar budaya Ibu kota Jakarta tidak lenyap diterjang pertumbuhan. Inisiatif ini pun disambut dengan gembira oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta.

terdapat aset Pemda yakni Danau Setu Babakan, komunitas Betawi Sekitar Setu Babakan masih memegang budayanya. Sebelum ditetapkannya daerah Setu Babakan, muncul beberapa wilayah lain di DKI Jakarta sebagai kandidat, seperti Rorotan, Kemayoran Srengseng Jakarta Barat dan Condet.
“Masyarakat sekitar Setu babakan masih kental dengan budaya Betawi dalam kehidupan sehari-harinya sehingga bisa mewakili budaya Betawi secara keseluruhan,” ujar salah satu pengurus Perkampungan Budaya Betawi.
Kini setelah 10 tahun berdiri, Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan terus melakukan pembenahan diri, walau belum signifikan dan masih banyak sudut-sudut di perkampungan tersebut yang tak sedap dipandang, namun usaha pengelola dan jajarannya patut diacungi jempol.
Tak pelak, usaha yang dilakukan pun mendatangkan hasil. Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan mulai ramai dikunjungi wisatawan, apalagi setiap hari libur., hiburan yang ditawarkan pun tak lepas dengan budaya Betawi. Setiap hari Minggu, pengunjung disuguhi pagelaran yang menampilkan kesenian khas Betawi seperti Gambang Kromong, Lenong, musik Samrah dan
Topeng Betawi.
Selain itu, bila menelusuri perkampungan seluas 105 hektar ini, pengunjung dapat menikmati rumah-rumah penduduk yang dibangun dengan nuansa Betawi. Rumah-rumah berbentuk khas ini sekarang sudah jarang ditemui di kota Jakarta. Memang unsur modernisasi terlihat dalam rumah-rumah tersebut tetapi arsitektur tetap kental dengan atmosfer Betawi. Hal ini mengingatkan kita akan Betawi tempo dulu.
Sementara itu, danau yang berada dalam kawasan perkampungan berfungsi ganda. Selain sebagai penampung air, Setu ini juga dimanfaaatkan sebagai wisata air. Didanau seluas 65 hektar ini tersedia hiburan menarik berupa motor air dengan tarif yang terjangkau. Dan bagi yang berminat danau ini juga menyediakan areal pemancingan.
Tempat wisata
Selain itu, bila menelusuri perkampungan seluas 105 hektar ini, pengunjung dapat menikmati rumah-rumah penduduk yang dibangun dengan nuansa Betawi. Rumah-rumah berbentuk khas ini sekarang sudah jarang ditemui di kota Jakarta. Memang unsur modernisasi terlihat dalam rumah-rumah tersebut tetapi arsitektur tetap kental dengan atmosfer Betawi. Hal ini mengingatkan kita akan Betawi tempo dulu.
Sementara itu, danau yang berada dalam kawasan perkampungan berfungsi ganda. Selain sebagai penampung air, Setu ini juga dimanfaaatkan sebagai wisata air. Didanau seluas 65 hektar ini tersedia hiburan menarik berupa motor air dengan tarif yang terjangkau. Dan bagi yang berminat danau ini juga menyediakan areal pemancingan.

kerap identik dengan makanan. Begitu juga disini, beragam makanan pun banyak dijajakan. Dereta
n penjaja makanan ini seakan tidak berujung, berjejer rapi di tepi danau. Makanan yang ditawarkan ini tentunya tentunya merupakan makanan khas Betawi. Ada Kerak Telor, Dodol Betawi, Rengginang, Geplak dan Sagon. Makanan ini dijajakan masyarakat dengan harga relatif murah.
Tapi selain berbagai paket wisata unik dan seru yang bisa kita jumpai di tempat ini. Ternyata Setu Babakan juga memiliki aturan khusus yang juga masih berakar pada Budaya Betawi. Diantaranya. Pengunjung diharapkan sudah meninggalkan lokasi mulai pukul 18.00 (Wib), karena menurut pengelola jika pengunjung masih di sini di atas pukul enam tersebut, bisa jadi niatnya sudah bukan lagi berekreasi namun lebih ke hal-hal negatif.
Kemudian yang unik lagi semua kegiatan di tempat ini di usahakan berhenti ketika terdengar suara adzan. “Yah, meskinpun cuma lima menit diusahain berenti dulu dah aktivitas kalo lagi adzan,” tutur Bang Indra. Dan di tempat ini sangat dilarang berjualan minuman keras.
repost: Abam Is
Jumat, 11 November 2011
MENGENANG CONDET
CONDET
Memasuki kawasan Condet dari arah Cililitan dikenal sebagai salah satu pusat kemacetan di Jakarta Timur. Padahal Condet, yang terdiri dari tiga kelurahan (Bale Kambang, Batu Ampar dan Kampung Tengah) luasnya 632 hektare kira-kira lebih separuh lapangan Monas pernah hendak dijadikan Cagar Budaya Betawi. Alasan Bang Ali 30 tahun lalu, karena 90 persen masyarakatnya asli Betawi. Kala itu, 60 persen penduduk Condet petani salak dan duku, 20 persen buah-buahan lainnya, dan hanya 15 persen buruh/karyawan.
Kini, kebun dan tanah pertanian berubah jadi perumahan dan gedung bertingkat. Tidak ditemui lagi duku dan salak condet yang manis dan masir. Pohon-pohon melinjo yang dijadikan emping ketika ratusan ‘home industri’-nya menjamur di Condet kini sudah hampir tidak membekas. Warga Betawi sudah banyak hengkang. Sejumlah warga Betawi yang tersisa, kini tidak lagi menjual tanahnya seperti dulu. Mereka membangun rumah-rumah petak untuk dikontrakan. Hasil kontrakan cukup untuk hidup sederhana.
Banyak warga keturunan Arab dari Jakarta dan Jawa Timur kini tinggal di Condet. Seperti di Jl Condet Raya — jalan raya dua jalur yang selalu macet –, kini banyak penjual minyak wangi, kitab bahasa Arab, madu Hadramaut dan Arab sampai rumah makan penjual nasi kebuli. Tentu saja sejumlah gedung dan kantor penampungan TKW.
Kita mengangkat masalah Condet, karena dalam bulan April ini ada peristiwa besar di sini. Tepatnya pada 15 April 1916, ketika Haji Entong Gendut memimpin para petani di depan rumah Lady Rollensin, pemilik tanah partikulir Cililitan Besar. Pada pertengahan abad ke-17 kawasan Cililitan merupakan bagian dari tanah partikulir Tandjong Oost (kini Tanjung Timur), saat dimiliki Pieter van der Velde.
Setelah beberapa kali berpindah tangan, awal abad ke-20 jadi milik keluarga Rollinson. Sisa-sisa gedung ini yang pernah terbakar masih kita dapati, saat masih jadi rumah peristirahatan Vila Nova. Terletak di depan Markas Latihan Rindam Kodam Jaya (ujung Jl Raya Condet), bersebelahan gedung PP dan Super Indo Market. Kala itu, gedung tuan tanah pekarangannya begitu luas hingga mencakup kawasan Tanjung Barat dan Kramat Jati. Belanda menamakan Groeneveld (lapangan hijau). Di sini terdapat peternakan sapi dengan produksi ribuan liter susu per hari untuk konsumsi masyarakat Belanda di Batavia.
Kembali kepada Haji Entong Gendut, ia seorang berani. Gelar haji menunjukkan ia orang bertakwa. Berlainan dengan jagoan masa kini, waktu itu Haji Entong Gendot pembela rakyat tertindas. Melawan kekuasaan kolonial: tuan tanah yang memeras, dibantu wedana dan menteri polisi yang disebut upas. Syahdan para tuan tanah masa itu tidak kalah serakahnya dengan para koruptor masa kini. Hingga masyarakat bertanya-tanya apakah pemerintahan SBY-Boed bisa memberantas dan menghukum mereka.
Di Condet kekejaman terjadi saat Vila Nova yang sering dikunjungi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk berakhir minggu, dijual pada Lady Robinson, orang kaya berkebangsaan Inggris. Lebih-lebih terhadap petani yang gagal membayar pajak. Dan tuan tanah kelewat getol mengadukan mereka ke landrad (pengadilan) untuk membikin perkara. Akibatnya banyak petani bangkrut, rumahnya dijual, tak jarang dibakar. Termasuk harta miliknya Pak Taba. Dan ketika eksekusi hendak dilaksanakan, rakyat Condet marah dan ramai-ramai mendatangi vila Nova guna menggagalkannya. Itu terjadi Februari 1916.
Insiden kedua April 1916. Waktu itu tengah berlangsung pertunjukan topeng. Dan ketika pertunjukan mendekati pukul 11 malam, terdengar teriakan-teriakan. Acara supaya dihentikan. Perintah datang dari Haji Entong Gendut. Rakyat patuh kepada tokoh kharismatik ini dan mereka bubaran dengan tenang.
Rupanya kala itu Haji Entong ingin membuat pemanasan. Ketika ia ditanya aparat kenapa ia berani nyetop pertunjukan topeng, ia menjawab: ”Demi Agama’. Ia hendak mencegah perjudian. Sambil dengan tegas dan memegang keris ia berikrar: ‘Siap untuk membela petani yang jadi korban kejahatan tuan tanah’.
Kemudian ada info yang memberihu para pejabat di Pasar Rebo dan Meester Cornelis banyak orang berkumpul di rumah Haji Entong Gendut. Ketika wedana diiringi para upas berseru agar Haji Entong keluar rumah, ia dengan suara mantap berkata: ”Saya akan keluar setelah shalat.” Ketika ia keluar, disertai ratusan para pengikutnya sambil berteriak: Allahuakbar..Sabilillah gua kagak takut mati. Pertempuran yang tidak seimpang terjadi. Tapi pihak Belanda kewalahan. Kemudian bantuan datang, dan Haji Entong Gendut tertembak mati sebagai syahid, jenazahnya dibuang ke laut oleh kompeni.
Setelah pemberontakan Haji Entong Gendut dipadamkan, sikap tuan tanah makin kejam. Rakyat yang sudah biasa ditakut-takuti itu akhirnya berani lagi mencoba melawan peraturan tuan tanah yang kejam. Pemberontakan kedua terjadi tidak sampai dengan kekerasan senjata. Ini berupa penjajagan, sampai di mana keberanian antek-antek tuan tanah tadi. Percobaan dilakukan dengan penebangan pohon-pohon besar yang tumbuh di tanah kuburan. Demikianlah pada 1923 terjadi penebangan di tanah pekuburan di Condet, yang mereka namakan Kober. Suatu keberanian melawan tindakan yang diharamkan Belanda.
Setelah itu rakyat Condet makin berani melawan kompeni. Hingga tidak jarang yang menunggak pajak. Ini berlangsung hingga 1934. Dipelopori beberapa orang rakyat Condet mengadukan kepada pengadilan mengenai tuan tanah keturunan Jan Ameen. Rakyat meminta bantuan hukum pada Mr Sartono, Mr Moh Yamin, Mr Syarifuddin dll. Rakyat Condet menang perkara, tetapi seperti diuraikan oleh Ran Ramelan, penulis buku ”Condet Cagar Budaya Betawi”, sejauh ini belum ada keputusan, sehingga datang Pemerintahan Federal. Untuk mengenang kepahlawanan Haji Entong Gendut, pernah diusulkan agar salah satu jalan di Condet diabadikan nama almarhum.
Alwi Shahab
Alwi Shahab
Senin, 24 Oktober 2011
Sore nyeng adem, saya ngeliwatin jalan aspal licin di sebuah kawasan peru mahan elite, kagak jauh dari kampung saya.Jalan nyeng udah rameeee banget. Motor ama mobil slawar-sliwer. Laen bangat ama jaman saya masih bocah. Dulu, baba saya sering ngajak saya liwat jalan ini kalu mao pegi ke kota . Jalan dari tanah nyeng dulu cumen selebar 1,5 meter, kan an kere, nyeng ada cumen sawah, jalan nyeng jadi becek mblekuk kalu pas ujan turun.
Ngeliwatin jejeran bangunan gedong gede belon jadi nyeng rencananya bakal dijadiin mall, saya ngelancangin sepeda tua nyeng dinaekin ama lakian tua be’uban. Saya sempet ngimpleng sekeledap ke lelaki itu, nyeng kelempengan juga, lagi ngelap keringet di mukanya pake anduk nyeng digantung di lehernya. Romannya, dia cape banga t . Saya terus ngeliwatin dia. Kagak lama, saya brenti terus turun ke pemisah jalan berumput tebel. Saya duduk di situ sebaru ngelietin mobil motor nyeng masih rame slawar-sliwer, pedahal sore udah mulain remeng-remeng. Saya keluarin rokok (kelempengan, bok-bok di situ belon ada larangan ngerokok). Baru berapa isepan, lelaki pake sepeda nyeng tadi saya liwatin, sampe. Dia brenti, terus turun dari sepedanya. Taunya, biar udah tua, badan amang ini kelietan masih keker. Badannya gede tinggi, bongsor bangat. Kalu diukur-ukur, paling tinggi saya cumen selehernya.
Dia duduk di atas rumput kira-kira lima meter dari saya sebaru ngipas-ngipasin anduk ke badannya. Saya langsung bangun ngedeketin dia, terus duduk kira-kira setengah meter di sampingnya. Dia nengok ke saya. Saya nyengir sebaru ngangsrongin sebungkus rokok. “Ngerokok, Mang?” saya nawarin. Dia nyengir dikit sebaru godeg ama ngangkat tangannya. “Kagak, Tong ah. Amang juga punya”. Tolaknya sebaru ngerogoh kan tong ama ngunjukin bungkusan rokok kreteknya. Saya manggut dan dia masukin lagi bungkusan rokoknya. “Emang abis dari mana, mang? Romannya cape amat ”. Tanya saya lagi. “Iya kuan, tong. Abis pulang dari rumah majikan nyeng sawahnya amang garap”. Dia nyebutin nama tempat majikannya. Saya kaget. Setau saya, paling kagak, jauhnya kurang lebih 20 kilometer dari tempat saya ama dia sekarang duduk. “lah, terus, amang ke sono naek sepeda itu?” Tanya saya gundam sebaru nunjuk sepedanya. “lah iya. Mangkanya ini amang ampe gera h begini. Abisnya pagimana ya? Amang mah cumen punya sepeda doang. Ada motor juga punya mantu, mana rumahnya laen kampung. Amang udah kagak sempet minta tulung, abisnya majikan amang nyuruh buruan ke rumahnya”. Saya mingkin tambah gundam. Kalo dipikir, romannya saya sendiri juga kagak bakalan sanggup naek sepeda sejauh nyeng amang ini tadi samperin, pulang-pegi lagi. Entak-anu, saya ngenalin diri ke amang itu, amang itu juga ngenalin diri ama nama kampungnya nyeng kagak taunya cumen ngelongkapin tiga kampung dari kampung saya. Namanya Mang Kidup, begitu dia nyebutin namanya. Pas ngos-ngosannya udah brenti, dia ngeluarin rokoknya terus mulain diisep, dalem. Ujung-ujungnya, dia cerita soal sawah majikannya nyeng dia garap. Sawah itu, luasnya setengah hektar. Kagak jauh dari kampungnya. Biasanya, sunggal musin motong, dia nyetorin hasil panen dipotong sekean persen buat upah garap. Kagak seberapa emang, tapi kata mang Kidup, lumayan buat makan ampuran kagak ngapa-ngapain. Sawahnya sendiri udah lama abis buat modalin anak-anaknya. Untung aja masih ada oran g nyeng percayain sawahnya buat dia garap. Dan kata dia lagi, dia ama keluarganya kudu pinter-pinter ngatur pengeluaran supaya cukup sampe musin panen depan. “Kudu bener-bener imet, tong”. Katanya. Terus tambahnya lagi. “mangkanya, amang nyeng udah pada tua mah cumen bisa mesen, jaman sekarang nyari elmu udah enak, sekolaan udah banyak, kagak kayak jaman amang, mao sekola aja kudu nguyur dulu lantaran jalanan belon ada, mana jauh lagi. Cari elmu nyeng tinggi. Banda bisa bures, tapi elmu kagak bakalan abis, beranak mala’an”. Saya manggut-manggut ngiya’in. tapi pekaranya, mang Kidup sekarang lagi puyeng, mblenger. Lantaran tadi dia dipanggil majikannya cumen mao dibilangin, kalo sebenernya, sawah nyeng udah betaun-taun dia garapin, kagak taunya udah ditawar ama Peru s ahaan Pengembang Peru mahan. Dan majikan mang Kidup udah setuju lantaran harga jualnya cukup tinggi. “Majikan amang mah baru setuju doang, tapi belon mao dibayar. Katanya, dia mao nanya pendapet amang dulu. Lah, entak-anu, amang mao ngomong apa? Itu kan sawah dia? Kalu dia udah setuju, masa ilokan amang nyeng cumen disuruh garapin mao nolak? Kagak jamak, uk anah?” saya diem. Kagak manggut, kagak godeg. Mang Kidup nerusin. “amang cumen bisa ngomong : iya. Jadi, besok tuh tanah mao diukur ama oran g-orangnya pembeli. Majikan amang janji, mao bagi-bagi hasil jualan sawah ono. Tapi, duitnya aja belon kelietan, amang udah puyeng duluan”. Saya masih diem, tapi sebagai ganti pertanyaan, saya ngangkat alis. “lantaran apa amang puyeng? Nyeng amang pikirin besok-besoknya. Pagimana kalu tuh duit abis? Amang udah tua, mao kerja apaan lagi buat ngongkosin anak bini?”. Pelan dan takut-takut, saya nyoba buka suara. “Mahap, mang. Bukan aya sok tau, tapi, sunggal oran g kan rejekinya udah pada ditakerin ama Allah. Kali-kali aja entarnya amang dapet rejeki laen nyeng lebih gede. Kali-kali aja ada oran g laen lagi nyeng mao minta tulung sawahnya digarapin ama amang. Syukur-syukur aja”.
“Iya juga sih, tong. Kalu amang kebuatan mikir kayak tadi, jadinya amang kayak oran g nyeng kagak percaya ama Tuhan ya? Astagfirullahaladzim. Lagian amang udah tua, ngapa jadi cetek bangat pikiran amang ya? Jamak dah ya? Namanya juga oran g lagi puyeng, hehehe…”
Madak-madak, saya ama mang Kidup kaget pas denger suara klakson mobil nyeng bebunyi nyanter. Saya bedua nengok, di sono saya liet ada mobil nyeng brenti. Rupanya, nyeng nyupir ono mobil kaget lantaran ada oran g lakian sebaru nyangkil bubu dipundaknya tau-tau nyeberang jalan. Nyeng nyeberang langsung ngeloyor pegi, mobil itu juga terus jalan lagi. Saya ama Mang Kidup sadar, sore udah mingkin peteng aja. Mang Kidup bangun. “Tong, mahap ya? Romannya udah mao maghrib nih. Amang kudu pulang. Rasanya jenga amat maghrib-maghrib masih ayab-ayaban di jalanan. Mana udah tua lagi. malu dilietin ama oran g nyeng pada mao jalan sembayang ke langgar”. Saya juga bangun dan nyengir. “Iya dah, mang. Saya juga mao pulang”.
Mang Kidup mulain naekin sepedanya. Dia ngangkat tangan sebelon mulain ngenjut sepedanya pegi. Saya bales ngangkat tangan. Arah pulang Mang Kidup sebenernya sama ama arah saya pulang, tapi saya milih tetep ngikutin dia dari belakang, ada perasaan kagak enak kalo mao ngeliwatin dia lagi. terus, madak-madak timbul pikiran iseng. Diem-diem, saya ambil gambar dia dari belakang, nyuri-nyuri. Terus saya brenti lagi, ngelietin mang Kidup pegi sampe akhirnya dia tambah jauh dan ilang ditelen petengnya sore.
Mahap mang, saya kagak ada maksud jelek nampilin gambar amang di sini biarpun saya boleh dapet nyuri-nyuri. Tapi waktu emang udah bikin banyak perobahan. Ada nyeng baek, ada juga nyeng kurang baek. Mao kagak mao, semuanya kudu diterima. Kalu saya boleh girang-girangin ati, paling kagak, jalanan kampung kita udah jauh lebih licin ampuran dulu nyeng becek, mblekuk, banyak logakan ama anjlogan….
Repost : Abam Is
Repost : Abam Is
Banyak yang mengenal kue khas Betawi hanya sebatas dodol, roti buaya atau kembang goyang. Padahal masih banyak ragam kue Betawi lainnya yang juga enak-enak dan sekarang sudah mulai langka. Mau tau?
Makanan Betawi Kota
1. Lapis Legit
Tidak ada bedanya dengan lapis legit yang banyak dijual sekarang, tetapi, lapis legit asli betawi biasanya menggunakan 25 sampai 30 buah kuning telur ayam yang dicampur dengan tepung terigu, susu, dan mentega, lalu ditambahkan dengan bumbu spekkoek, agar aromanya menjadi harum. Pengerjaannya yang membutuhkan ketelatenan membuat lapis legit mahal dan hanya disajikan pada hari lebaran atau hajatan.
2. Sengkulun
Bertekstur kenyal, sekilas mirip kue keranjang yang disajikan saat tahun baru Cina. Hanya saja, sengkulun tidak dibungkus dengan daun pisang dan baru disantap dengan taburan kelapa parut. Bahannya adalah tepung ketan yang diaduk bersama santan dan gula merah, lalu dikukus hingga matang.
3. Kue Kelen
Adonannya hanya terdiri dari susu, telur, mentega yang dikukus hingga matang. Makanya, setelah matang kue kelen ini mirip seperti puding susu. Dulu, kue kelen disajikan dalam cucing (mangkuk kecil dari keramik Cina). Kini, demi alasan kepraktisan, kue kelen dibungkus dengan plastik.
4. Andepite
Kentang yang dihaluskan bersama santan, gula, dan telur, lalu dikukus hingga matang. Lalu dicetak dalam wadah bergerigi. Saat hendak disajikan, permukaannya ditaburi adas manis. Cita rasanya manis legit.
5. Kue Talam
Biasanya terdiri dari dua lapis dan terbuat dari campuran singkong, atau ubi, atau kentang, dengan santan, dan tepung beras yang dikukus. Di pasaran ada talam udang, talam hijau atau talam ubi. Cita rasanya bervariasi: manis (seperti talam hijau dan talam kentang) dan gurih (seperti talam udang).
6. Kue Satu
Pengerjaanya sedikit njelimet karena harus dicetak satu per satu di cetakan kayu, kemudian di ketuk-ketuk cetakannya hingga kuenya keluar. Bahan dasar kue warisan kuliner Cina ini adalah tepung kacang hijau yang ditumbuk bersama gula pasir hingga halus benar. Jika saat dicicipi kue satu meleleh di mulut, berarti kue tersebut terbuat dari tepung kacang hijau asli tanpa tambahan tepung lainnya.
7. Roti Buaya
Sepasang roti mirip buaya oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai lambang kesetiaan, seperti buaya yang sangat terkenal dengan pasangannya. Oleh karena itu harus diberikan sepasang.
Makanan Betawi Pinggiran
8. Jipang & Berondong
Jipang terbuat dari beras ketan goreng, lalu diaduk dengan cairan pekat gula, dicetak dan dipotong-potong. Sedangkan berondong terbuat dari biji jagung (popcorn) yang dibuat seperti jipang.
9. Dodol
Biasanya disajikan saat Lebaran atau hajatan. Penganan ini terbuat dari tepung ketan, santan dan gula merah yang digodok sampe pekat. Ada juga yang menambahkan bawang goreng dan kelapa gongseng sehingga aromanya wangi. Orang Betawi lebih senang membeli atau memesan daripada membuatnya sendiri karena pengolahannya yang lama.
10. Kembang Goyang
Cetakannya berbentuk sutil yang ujungnya seperti kembang. Setelah cetakan dicelupkan ke dalam adonan encer, digoreng di minyak panas sambil digoyang-goyang hingga terlepas. Karena itulah kue ini disebut kembang goyang. Terbuat dari tepung beras, santan, gula pasir dan kadang diberi tambahan wijen sehingga cita rasanya lebih unik.
11. Wajik
Beras ketan matang yang dimasak kembali bersama gula pasir atau gula merah, kelapa parut dan santan. Untuk pemanis, bisa juga ditambahkan dengan pewarna makanan. Setelah matang, wajik dicetak atau dibungkus dengan kertas minyak.
12. Sagon
Terbuat dari tepung ketan, gula pasir dan kelapa parut yang sudah disangrai hingga kering, lalu dicetak. Bentuk kuenya tergantung pada cetakannya. Ada yang oval, kotak, atau bergerigi. Saat digigit, sagon biasanya terasa agak sedikit keras.
13. Tape Uli (Tape Ketan & Uli Ketan)
Uli (ketan matang yang ditumbuk halus bersama kelapa parut dan sedikit garam) yang putih bersih, lembut dan gurih, paling pas dinikmati bersama tape ketan yang manis. Tak heran jika tape uli jadi penganan khas Betawi istimewa.
14. Geplak
Kue ini mirip kue sagon, namun teksturnya lebih halus, lembut dan lunak. Warnanya putih dan permukaanya ditaburi gula bubuk. Cita rasanya manis. Menyantapnya dengan cara 'dicubit-cubit' dengan tangan.
15. Rengginang
Dibuat dari beras ketan yang setelah diolah kemudian dijemur di bawah panas matahari dan digoreng hingga mengembang. Ada 2 pilihan rasa: rengginang manis dan rengginang asin.
16. Kue Pepe
Cita rasanya manis, terbuat dari tepung kanji dan santan. Lapisannya transparan dan beraroma harum daun jeruk purut. Ada yang lapisannya berwarna putih dan cokelat karena menggunakan gula merah, ada juga yang lapisannya putih hijau karena menggunakan gula pasir dan air perasan daun suji dan pandan. Ada juga yang berlapis putih merah atau pink karena tambahan pewarna makanan.
Jajanan Betawi
Makanan ini biasanya dijajakan keliling kampung dengan cara dipikul atau didorong dengan gerobak. Jika tidak, mereka mangkal di suatu tempat.
1. Kue Pancong Betawi
Kue bercita rasa manis dan gurih ini terbuat dari tepung beras dengan campuran kelapa parut dan taburan gula pasir diatasnya.
2. Kerak Telor
Karena digarang sampai kering hingga berbentuk seperti kerak, makanya sajian ini populer dengan sebutan kerak telor. Terbuat dari telor bebek yang dikocok bersama kelapa sangrai dan ebi, lalu ditaburkan ke atas aronan beras ketan yang dipanggang (selebar piring makan) diatas wajan tanpa tambahan minyak goreng. Cita rasanya gurih dan sedikit pedas. Dimakan hangat dengan taburan serundeng.
3. Kue Putu
Penjualnya memberi tanda kedatangannya dengan bunyi seperti tiupan pluit. Kue putu yang berwarna putih atau hijau dengan bahan dasar tepung beras sudah dicampur dengan air daun suji pandan. Isinya adalah sisiran gula merah. Karena dimasak dalam tabung bambu, kue ini beraroma harum. Disantapnya dengan kelapa parut.
4. Kue Rangi
Terbuat dari tepung beras dengan campuran parutan kelapa dan santan. Dipanggang di atas bara api dalam cetakan besi berbentuk lajur-lajur hingga matang. Dimakan dengan siraman gula merah cair yang dikentalkan dengan tepung maizena.
5. Kue Ape
Mirip serabi dari Solo. Warna kuenya putih atau hijau. Putih karena ke dalam adonannya tidak ditambahkan apa-apa, sedangkan yang hijau karena adanya larutan pandan dan daun suji di dalamnya. Terbuat dari tepung terigu, tepung beras, dan santan yang dikocok hingga rata. Lalu dipanggang dalam wajan mungil diatas bara api hingga bagian pinggirnya kering dan bagian tengahnya berbentuk seperti gunung.
Makanan Betawi Kota
1. Lapis Legit
Tidak ada bedanya dengan lapis legit yang banyak dijual sekarang, tetapi, lapis legit asli betawi biasanya menggunakan 25 sampai 30 buah kuning telur ayam yang dicampur dengan tepung terigu, susu, dan mentega, lalu ditambahkan dengan bumbu spekkoek, agar aromanya menjadi harum. Pengerjaannya yang membutuhkan ketelatenan membuat lapis legit mahal dan hanya disajikan pada hari lebaran atau hajatan.
2. Sengkulun
Bertekstur kenyal, sekilas mirip kue keranjang yang disajikan saat tahun baru Cina. Hanya saja, sengkulun tidak dibungkus dengan daun pisang dan baru disantap dengan taburan kelapa parut. Bahannya adalah tepung ketan yang diaduk bersama santan dan gula merah, lalu dikukus hingga matang.
3. Kue Kelen
Adonannya hanya terdiri dari susu, telur, mentega yang dikukus hingga matang. Makanya, setelah matang kue kelen ini mirip seperti puding susu. Dulu, kue kelen disajikan dalam cucing (mangkuk kecil dari keramik Cina). Kini, demi alasan kepraktisan, kue kelen dibungkus dengan plastik.
4. Andepite
Kentang yang dihaluskan bersama santan, gula, dan telur, lalu dikukus hingga matang. Lalu dicetak dalam wadah bergerigi. Saat hendak disajikan, permukaannya ditaburi adas manis. Cita rasanya manis legit.
5. Kue Talam
Biasanya terdiri dari dua lapis dan terbuat dari campuran singkong, atau ubi, atau kentang, dengan santan, dan tepung beras yang dikukus. Di pasaran ada talam udang, talam hijau atau talam ubi. Cita rasanya bervariasi: manis (seperti talam hijau dan talam kentang) dan gurih (seperti talam udang).
6. Kue Satu
Pengerjaanya sedikit njelimet karena harus dicetak satu per satu di cetakan kayu, kemudian di ketuk-ketuk cetakannya hingga kuenya keluar. Bahan dasar kue warisan kuliner Cina ini adalah tepung kacang hijau yang ditumbuk bersama gula pasir hingga halus benar. Jika saat dicicipi kue satu meleleh di mulut, berarti kue tersebut terbuat dari tepung kacang hijau asli tanpa tambahan tepung lainnya.
7. Roti Buaya
Sepasang roti mirip buaya oleh calon mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai lambang kesetiaan, seperti buaya yang sangat terkenal dengan pasangannya. Oleh karena itu harus diberikan sepasang.
Makanan Betawi Pinggiran
8. Jipang & Berondong
Jipang terbuat dari beras ketan goreng, lalu diaduk dengan cairan pekat gula, dicetak dan dipotong-potong. Sedangkan berondong terbuat dari biji jagung (popcorn) yang dibuat seperti jipang.
9. Dodol
Biasanya disajikan saat Lebaran atau hajatan. Penganan ini terbuat dari tepung ketan, santan dan gula merah yang digodok sampe pekat. Ada juga yang menambahkan bawang goreng dan kelapa gongseng sehingga aromanya wangi. Orang Betawi lebih senang membeli atau memesan daripada membuatnya sendiri karena pengolahannya yang lama.
10. Kembang Goyang
Cetakannya berbentuk sutil yang ujungnya seperti kembang. Setelah cetakan dicelupkan ke dalam adonan encer, digoreng di minyak panas sambil digoyang-goyang hingga terlepas. Karena itulah kue ini disebut kembang goyang. Terbuat dari tepung beras, santan, gula pasir dan kadang diberi tambahan wijen sehingga cita rasanya lebih unik.
11. Wajik
Beras ketan matang yang dimasak kembali bersama gula pasir atau gula merah, kelapa parut dan santan. Untuk pemanis, bisa juga ditambahkan dengan pewarna makanan. Setelah matang, wajik dicetak atau dibungkus dengan kertas minyak.
12. Sagon
Terbuat dari tepung ketan, gula pasir dan kelapa parut yang sudah disangrai hingga kering, lalu dicetak. Bentuk kuenya tergantung pada cetakannya. Ada yang oval, kotak, atau bergerigi. Saat digigit, sagon biasanya terasa agak sedikit keras.
13. Tape Uli (Tape Ketan & Uli Ketan)
Uli (ketan matang yang ditumbuk halus bersama kelapa parut dan sedikit garam) yang putih bersih, lembut dan gurih, paling pas dinikmati bersama tape ketan yang manis. Tak heran jika tape uli jadi penganan khas Betawi istimewa.
14. Geplak
Kue ini mirip kue sagon, namun teksturnya lebih halus, lembut dan lunak. Warnanya putih dan permukaanya ditaburi gula bubuk. Cita rasanya manis. Menyantapnya dengan cara 'dicubit-cubit' dengan tangan.
15. Rengginang
Dibuat dari beras ketan yang setelah diolah kemudian dijemur di bawah panas matahari dan digoreng hingga mengembang. Ada 2 pilihan rasa: rengginang manis dan rengginang asin.
16. Kue Pepe
Cita rasanya manis, terbuat dari tepung kanji dan santan. Lapisannya transparan dan beraroma harum daun jeruk purut. Ada yang lapisannya berwarna putih dan cokelat karena menggunakan gula merah, ada juga yang lapisannya putih hijau karena menggunakan gula pasir dan air perasan daun suji dan pandan. Ada juga yang berlapis putih merah atau pink karena tambahan pewarna makanan.
Jajanan Betawi
Makanan ini biasanya dijajakan keliling kampung dengan cara dipikul atau didorong dengan gerobak. Jika tidak, mereka mangkal di suatu tempat.
1. Kue Pancong Betawi
Kue bercita rasa manis dan gurih ini terbuat dari tepung beras dengan campuran kelapa parut dan taburan gula pasir diatasnya.
2. Kerak Telor
Karena digarang sampai kering hingga berbentuk seperti kerak, makanya sajian ini populer dengan sebutan kerak telor. Terbuat dari telor bebek yang dikocok bersama kelapa sangrai dan ebi, lalu ditaburkan ke atas aronan beras ketan yang dipanggang (selebar piring makan) diatas wajan tanpa tambahan minyak goreng. Cita rasanya gurih dan sedikit pedas. Dimakan hangat dengan taburan serundeng.
3. Kue Putu
Penjualnya memberi tanda kedatangannya dengan bunyi seperti tiupan pluit. Kue putu yang berwarna putih atau hijau dengan bahan dasar tepung beras sudah dicampur dengan air daun suji pandan. Isinya adalah sisiran gula merah. Karena dimasak dalam tabung bambu, kue ini beraroma harum. Disantapnya dengan kelapa parut.
4. Kue Rangi
Terbuat dari tepung beras dengan campuran parutan kelapa dan santan. Dipanggang di atas bara api dalam cetakan besi berbentuk lajur-lajur hingga matang. Dimakan dengan siraman gula merah cair yang dikentalkan dengan tepung maizena.
5. Kue Ape
Mirip serabi dari Solo. Warna kuenya putih atau hijau. Putih karena ke dalam adonannya tidak ditambahkan apa-apa, sedangkan yang hijau karena adanya larutan pandan dan daun suji di dalamnya. Terbuat dari tepung terigu, tepung beras, dan santan yang dikocok hingga rata. Lalu dipanggang dalam wajan mungil diatas bara api hingga bagian pinggirnya kering dan bagian tengahnya berbentuk seperti gunung.
Langganan:
Postingan (Atom)
